KH. Badaruddin

CLICKBORNEO.COM – Putra keempat dari pasangan KH Ahmad Zaini – Hj Sanah ini lahir Desa Tunggul Irang Martapura, Sabtu 11 Februari 1937. Tinggal di lingkungan keluarga yang taat mengamalkan ajaran Islam turut membentuk karakternya menjadi pribadi akhlakul karimah dan mencintai ilmu agama. Sejak kecil Badaruddin sudah sering mendengarkan pengajian-pengajian yang diselenggarakan oleh ayah dan kakeknya.

KH Badaruddin1

Di samping mendapat gemblengan dari keluarga, ia juga menimba ilmu agama di Madrasah Iqdamul Ulum, Tunggul Irang. Melihat semangat belajarnya yang tinggi, orangtuanya kemudian memasukkan pula Badaruddin ke Ponpes Darussalam. Jadi, dalam sehari, yakni pagi dan sore,  ia menuntut ilmu di dua tempat. Hal itu terus dilakoninya hingga tamat dari pesantren yang jadi kebanggaan masyarakat Kalsel tersebut.   Tak puas menggali ilmu agama di Tanah Air sendiri, Badruddin kemudian memutuskan berangkat ke Mekkah. Di sini ia memperdalam Islam di Madrasah Shalitiah selama dua tahun.

Sekembali dari Tanah Suci, bukan berarti hasratnya untuk belajar ilmu agama berhenti. Ia terus termotivasi menggalinya pada beberapa ulama ternama Martapura, seperti KH Husin Qadri (kakaknya sendiri), KH Anang Sya’rani Arif, KH Muhammad Seman Mulia, dan KH Muhammad Salim Ma’ruf. Keempat ulama sepuh inilah yang berpengaruh besar dalam membentuk karakter keulamaan KH Badaruddin.

Guru Ibad, demikian beliau akrab dipanggil, juga menyempatkan diri pergi ke pulau Jawa untuk berguru dengan ulama dan habaib terkemuka di sana. Dari hasil musibah itulah beliau dikenal sebagai orang yang pertama kali membawa dan mengembangkan syair Maulid Habsyi di Kalsel dan sekitarnya. Pembacaan syair-syair Maulid Habsyi semakin populer di Tanah Banjar, terutama setelah disosialisasikan oleh Guru Sekumpul.

Sebagai mubaligh nama KH Badaruddin sangat kondang di masyarakat. Beliau sering diundang untuk menjadi dai maupun khatib. Ciri khas ceramah beliau menggunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami oleh jamaah. Intonasi suara yang bagus, jelas dan lantang, serta didukung dengan ekpresi wajah yang serasi, membuat pesan-pesan keagamaan yang beliau sampaikan mampu menyentuh kalbu.

Dengan berbagai kelebihannya itu, tak heran bila banyak kalangan yang mengajak beliau untuk bergabung, termasuk dari organisasi politik. KH Badaruddin pernah menjadi petinggi NU Kalsel, dewan penasihat Golkar, angggota Dewan Pertimbangan Agung dan anggota MPR pusat selama dua periode (1977 – 1987).

Di masa Orde Baru para pejabat tinggi dan keluarga presiden yang tinggal di Istana Negara umumnya kenal baik dengan beliau. Karena itu, bila sedang bertugas atau melakukan kunjungan kenegaraan di Kalsel, mereka menyempatkan diri sowan ke tempat Guru Ibad.

Ketika diamanahi sebagai pimpinan Ponpes Darussalam (1976-1992) beliau banyak melakukan inovasi. Di antaranya, selain di lokasi lama di Pasayangan, dibangun pula gedung baru di Jl Perwira Tanjung Rema Darat.

KH Badaruddin tutup usia 27 Jumadil Akhir 1413 H dan dimakamkan di kampung kelahirannya Tunggul Irang Martapura. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*