Keunggulan Tulisan Dibanding Berdebat

CLICKBORNEO.COMTulisan jauh lebih efektif mencapai sasaran ketimbang lewat perdebatan. Khalayak pembaca bisa menyimak isi tulisan dalam suasana yang lebih kondusif. Mau sambil rebahan di tempat tidur atau duduk di bangku taman sembari mendengarkan musik, silakan! Pokoknya terserah selera si empunya diri. Dengan begitu, yang bersangkutan punya kesempatan untuk mencerna dan merenungkannya secara intensif.

Menulis Oke

Beberapa waktu lalu ketika pelantikan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Kalsel di Mahligai Pancasila, Ketua PBNU Pusat KH Hasyim Muzadi dalam sambutannya sempat menyinggung tentang buku yang mengugat seputar amaliah kaum nahdliyin. Ia berpesan, orang-orang NU tak perlu marah-marah atau merasa kebakaran jenggot. Hadapi dengan gentlman. Kalau diserang lewat buku, balas pula dengan buku.

Sekian bulan berselang muncul buku berisi bantahan dari NU. Istilahnya, terjadi ‘perang’ tulisan. Masing-masing mengeluarkan dasar atau landasan hukum untuk memperkuat pendapat dan keyakinan mereka. Itu jauh lebih konstruktif daripada perang mulut. Adu fisik pun terhindarkan. Justru wawasan umat jadi kian terbuka. Tidak melihat permasalahan hanya dari sudut pandang satu aliran.

Soal pendapat mana yang dipilih itu terserah sepenuhnya pada khalayak pembaca. Tidak bisa diintervensi. Karena tingkat penerimaan seseorang sesuai dengan kadar pemahamannya.

Dalam Alquran diajarkan, jika hendak menyampaikan kebenaran lakukanlah dengan cara hikmah. Sementara dalam debat, hal itu malah sering terabaikan. Justru yang mencuat adalah sikap emosional.

Contoh sederhana, sekarang ini banyak remaja putri bahkan wanita paroh baya mengikis alis mata. Apalagi ketika mau bersanding di pelaminan. Padahal, dalam sebuah hadis jelas-jelas perbuatan tersebut dilarang. Kalau kita menemukan fakta demikian, lalu menegur secara lisan, boleh jadi si bersangkutan akan tersinggung. Terlebih jika dilakukan di depan orang banyak, kemungkinan kita bakal didebat. Masih untung kalau tidak disemprot atau dicaci-maki. Tak peduli, bahwa sebenarnya maksud kita baik semata untuk mengingatkan dan meluruskan dia.

Sebaliknya, jika prilaku keliru atau salah itu kita koreksi lewat tulisan, siapapun bisa merenungkannya. Tidak hanya ditujukan pada satu individu. Dan pihak manapun tak perlu ada yang merasa tersinggung, karena maksud kita bukan untuk menghantam person, tapi mengkritisi perbuatannya.

Jadi, kalau kita hendak menyampaikan misi, pemikiran, pandangan tertentu, jauh lebih efektif menggunakan tulisan ketimbang dengan cara berdebat. Karena itulah, tokoh-tokoh pendiri ormas Islam seperti Ihwanul Muslimin, Jamaah Tabligh, Hizbut Tahrir, dan sebagainya, untuk merekrut pengikut sebanyak mungkin, disamping melakukan langkah-langkah praktis juga gencar menerbitkan tulisan. Dengan begitu, paham mereka bisa tersebar luas, melintasi sekat ruang dan waktu.

Maka, daripada sibuk berdebat lebih baik tuangkan isi pikiran kita ke dalam bentuk tulisan. Tak perlu banyak omong, teruslah menulis dan menulis.

Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah? []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*