Kesultanan Banjar Junjung Marwah Kokohkan Kejayaan

Oleh; Ahmad Barjie B

CLICKBORNEO.COM – November 2012 lalu Kesultanan Banjar pimpinan Sultan H Khairul Saleh merayakan Milad ke-508. Pada rangkaian kegiatan milad tersebut ada pasar rakyat, pembagian bubur asyura, acara bakisah, shalat hajat, nasyid, balamut, mamanda, pagelaran berbagai kesenian, permainan Banjar, baik yang sudah punah maupun masih eksis, serta berbagai karasmin khas Banjar dan pesta rakyat Banjar.

Milad Kesultanan Banjar

Tak ketinggalan seminar sejarah dan budaya Banjar juga akan digelar guna menggali lebih banyak khazanah informasi dan pengetahuan masa lalu yang penting untuk didokumentasikan dan direfleksikan sekarang dan ke depan.

Tema besar yang diangkat dalam milad nanti adalah: “Junjung Marwah Kokohkan Kejayaan”. Ini merupakan kelanjutan dari tema sebelumnya, yaitu “Mamangku Adat Manjamput Zaman” (2010), dan “Maangkat Darjah Maraih Tuah” (2011).

Jika kita cermati, tema ini cukup tepat. Marwah (dari bahasa Arab muruah) artinya kehormatan diri, harga diri.  Arti lain dari Marwah, tentu saja nama tempat Sa’i dalam pelaksanaan ibadah Haji dan Umrah, antara Shafa dan Marwah.

Setiap manusia diwajibkan untuk menjunjung marwahnya. Apabila marwah belum dimiliki wajib dicari, digali. Jika sudah hilang, luntur,  wajib ditemukan dan diperkuat, dan jika sudah ada wajib dipertahankan dan dilestarikan. Dan jika marwah kita dilecehkan, diinjak-injak, wajib dibela hingga tetes darah penghabisan. Membela kehormatan termasuk ajaran agama yang vital.

Warisan Sejarah

Jika kita kaji sejenak sejarah Kesultanan Banjar, tampak sekali betapa para sultan, pangeran, pagustian dan segenap keluarga besar kerajaan bersama rakyat sangat kuat menjunjung marwah. Ketika pedagang Tionghoa, Arab dan lainnya datang ke tanah Banjar untuk berdagang, atau orang Jawa datang untuk bertani,  dengan menghormati eksistensi orang Banjar, mereka diterima dengan hati dan tangan terbuka. Tidak sedikit yang tinggal menetap, berasimilasi dan berakulturasi dengan dan menjadi orang Banjar, sehingga lahirlah sejumlah perkampungan, seperti Kampung Pecinaan, Kampung Arab, Kampung Jawa dan sebagainya.

Tetapi ketika penjajah Belanda datang dengan motif menjajah, maka para sultan dan pangeran Banjar bersama rakyat segera angkat senjata. Perang Banjar yang paling lama dalam sejarah peperangan di Nusantara menjadi bukti betapa gigihnya orang-orang dulu mempertahankan marwahnya. Karena itu, walau penjajah sempat berhasil menancapkan kuku kekuasaan di tanah Banjar, tapi tak satu pun ditemui ada perkampungan Belanda di banua ini.

Penjajah Belanda dulu, selain bermotif penjajahan, juga ingin merusak budaya dan agama kita. Mereka membawa budaya baru, seperti dansi-dansi, pergaulan bebas, miras dan kehidupan hedonis yang jauh dari ajaran agama. Mereka menghargai urang Banjar teramat rendah. Beberapa kawasan perkantoran dan kompleks pemukiman elit mereka pagari dengan tulisin: “anjing dan inlander dilarang masuk”. Inlander adalah sebutan untuk pribumi Indonesia, termasuk urang Banjar.  Berarti derajat kita, martabat kita, dulu hanya mereka samakan dengan binatang.

Pangeran Antasari ketika menjawab ajakan perdamaian dari Belanda yang kewalahan menghadapi perlawanan pejuang, isinya juga minta agar marwah Kesultanan Banjar dipulihkan. Kalau Belanda ingin berdagang secara fair play silakan, asalkan tidak campur tangan dalam urusan internal kesultanan dan tidak merusak budaya Banjar yang islami.  Karena Belanda tidak mau mengubah sikapnya, dan Pangeran Antasari tetap kokoh dengan pendiriannya, Perang Banjar pun berlanjut dengan semboyan haram manyarah waja sampai ka puting.

Perubahan Paradigma

Marwah demikian perlu dijunjung tinggi dan dilestarikan dalam konteks kekinian. Sebagai efek penjajahan, budaya Banjar dalam beragam jenisnya banyak yang hilang. Semangat kebanjaran sudah mulai luntur, baik di kalangan generasi tua apalagi yang muda.  Berbagai seni-budaya Banjar seperti balamut, mamanda, bakisah, wayang Banjar dan banyak lagi, semakin langka.

Kita ingin identitas kebanjaran ini kembali dibangkitkan, dihidupkan, dikembangkan, dengan tetap menjadikan agama sebagai ruh dan landasan berpijak. Sebab budaya Banjar juga memegang prinsip: Adat basandi Syara dan syara basandi Kitabullah. Apabila kita konsisten berpegang kepada agama, Insya Allah kita akan berjaya dan tidak sesat selamanya. Nabi saw berwasiat: Aku tinggalkan kepadamu dua warisan yang jika diperpegangi tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah Alquran dan Sunnah Rasulullah.

Budaya produk akal budi dan kreasi manusia beragama. Silakan berkembang menurut zamannya, tetapi semuanya haruslah diwarnai oleh nilai-nilai keislaman. Dan pada acara milad itu,  melalui berbagai kajian, ekspresi dan atraksi budaya, pesan-pesan agama dan moral bisa disampaikan ke tengah masyarakat. Kita harapkan, urang Banjar semakin menyadari akan identitasnya, kelebihan dan kekurangannya, memiliki persepsi dan komitmen yang sama untuk mempertahankan dan mengembangkannya secara positif dan konstruktif.

Agar nilai-nilai budaya lebih semarak dan lestari, diperlukan perbaikan paradigma atau cara pandang kita. Saat ini kita memang tidak lagi dijajah secara fisik dan politik oleh asing, tapi ada penjajahan pikiran yang kita rasakan. Jujur saja, ada perasaan kurang pede dan seolah merasa budaya sebagai sesuatu yang kuno, out up date dan  tidak perlu dilestarikan lagi. Bahwa warisan urang tuha bahari seolah tidak connect lagi dengan zaman modern.

Cara pandang begini tentu keliru. Agama mengajarkan, hal-hal baik di masa lalu perlu dilestarikan. Di kalangan Jamiyah NU ada kaidah: Al-muhafazhatu alal qadimis-shalih wa akhzu bil-jadidil ashlah (memelihara yang lama yang masih baik dan mengambil yang baru yang lebih baik). Bahkan dari 14 macam dosa yang mengundang bencana adalah jika kita sudah menganggap pendapat ulama, dan budaya dulu sudah tidak benar, lalu dengan gampang kita tinggalkan, abaikan dan lecehkan. Padahal budaya dulu juga banyak berisi muatan kebenaran, karena muncul dari para ulama, tokoh dan tetuha yang hatinya mulia, bersih dan ikhlas. Jauh dari motif politik kekuasaan dan keuntungan pribadi dan kelompok.  Lihat saja sejumlah peribahasa Banjar, ungkapan dan papadah urang bahari, betapa masih relevan nilainya hingga harini.

Bangsa-bangsa yang kini tergolong maju, seperti Jepang, Cina dan Korea justru adalah bangsa yang memiliki komitmen terhadap budaya leluhurnya.  Dan di negeri kita, urang Minang juga suku yang maju. Mereka mampu menjadi tuan di daerahnya sendiri, bahkan juga menonjol di daerah-daerah lain hingga luar negeri. Wikipedia mencatat, sesudah Jawa, orang Minang paling banyak mencapai prestasi gemilang baik di bidang politik, ekonomi, agama, keilmuan, seni dan budaya. Empat dari 10 pendiri negeri dan pahlawan nasional berasal dari Minang. Ini semua karena mereka selalu komitmen dengan budaya.. Bagi mereka budaya itu bersumber dari ajaran agama, yang indak lakang dek paneh indak lapuak dek hujan.

Kita setuju, komitmen menghidupkan budaya sebagai sebagai salah satu sarana agar banua Banjar berjaya, kini digerakkan oleh Kesultanan Banjar. Melalui berbagai dukungan dan kegiatan lembaga kesultanan,  kita merasa budaya Banjar semakin hidup, mengeliat, bergerak dan memancarkan sinarnya. Semoga terus menyala dalam waktu yang lama. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*