Kesultanan Banjar dan Pelestarian Budaya

Sambungan dari Tulisan “Menghidupkan Kerajaan Banjar”

Oleh: Ahmad Barjie B

CLICKBORNEO.COM – Pasca Perjanjian Meja Bundar dan Pengakuan Kedaulatan RI 1949, Belanda (NICA) terpaksa hengkang dari bumi Indonesia, termasuk dari banua Banjar. Logikanya setelah sang penjajah angkat kaki, maka Kerajaan Banjar yang dimatikan harus dihidupkan kembali, tentunya dalam konteks NKRI. Hal ini penting, karena suatu kerajaan dapat dijadikan simbol kebanggaan serta sarana untuk melestarikan berbagai warisan daerah, ajaran agama, nilai-nilai adiluhung (luhur), seni budaya dan lainnya. Kerajaan masa lalu yang masih eksis tentu juga dapat dijadikan aset pariwisata dan sumber informasi ilmiah kesejarahan yang berharga.

Sultan Banjar

Keinginan menghidupkan kerajaan masa lalu dalam konteks budaya, juga didorong oleh pemerintah. Melalui Permendagri Nomor 39 tahun 2007 tentang Pedoman Fasilitasi Organisasi Kemasyarakatan Bidang Kebudayaan, Keraton, dan Lembaga Adat dalam Pelestarian dan Pengembangan Budaya Daerah hal tersebut diatur sedemikian rupa. Tugas melestarikan lembaga keraton, adat-istiadat, budaya, dan sejenisnya ini dibebankan kepada kepala daerah dan masyaakat.

Masyarakat Banjar patut bergembira, karena salah seorang kepala daerah saat ini, yaitu Bupati Banjar Pangeran H Khairul Saleh adalah seorang zuriat Kesultanan Banjar yaitu trah Sultan Sulaiman.

Jika dikaji sejarah, Sultan Sulaiman memerintah Kesultanan Banjar tahun 1801 – 1825, selanjutnya digantkan oleh Sultan Adam (1825-1967). Selama hidupnya, Sultan Sulaiman yang bermakam di Karang Intan Kabuaten Banjar pernah mengawini lima orang isri, yaitu Nyai Ratna atau Ratu Intan Sari berkedudukan sebagai permaisuri, kemudian Nyai Cina, Nyai Argi, Nyai Unangan dan Nyai Kumala Sari.

Dari seluruh istri tersebut melahirkan 18 orang anak, beberapa di antaranya anak lelaki (putra/pengeran),  terdiri dari Pangeran (selanjutnya menjadi Sultan Adam),  Pangeran Husin, Pangeran Perbatasari, Pangeran Musa, Pangeran Ahmad, Pangeran Hasan, Pangeran Jamain, Pangeran Tahmid dan Pangeran Singosari.

Menurut Drs. H. Asli Noor Arief, ketika pecah Perang Banjar, keluarga Kesultanan Banjar terpencar di mana-mana. Pangeran Antasari yang terdesak di Banjarmasin dan Martapura meindahan markasnya ke Puruk Cahu Kalteng. Sebelum ke sana beliau bermarkas di kawasan Tabalong. Di sini beliau mencari-cari keturunan/zuriyat Kesultanan Banjar, lalu bertemu dengan Pangeran H Abubakar anak dari Pangeran Singosari bin Sultan Sulaiman, beliau seorang ulama dan ditokohkan oleh masyarakat Tabalong saat itu dan kini makamnya ada di Marindi Tabalong dan sering diziarahi orang..

Pangeran Abubakar memiliki anak bernama Gusti Umar, dan Gusti Umar memiliki anak bernama Gusti Jumri (kini Pangeran Jumri). Gusti Jumri adalah ayah dari Pangeran (kini Sultan) H Khairul Saleh. Dengan melihat garis keturunan itu maka dapat dikatakan bahwa Sultan Khairul Saleh adalah trah Sultan Sulaiman.

Mengacu kepada Permendagri di atas, kita berharap dalam posisi sebagai tutus Kesultanan Banjar dan sekaligus sebagai kepala daerah, maka pelembagaan dan pelestarian budaya Banjar, temasuk lembaga keraton dapat dihidupkan kembali.    Dimaksud dengan keraton di sini adalah organisasi kekerabatan yang dipimpin oleh Raja/Sultan/Panembahan atau sebutan lain yang menjalankan fungsi sebagai pusat pelestarian dan pengembangan adapt budaya dan nilai-nilai sosial budaya yang terkandung di dalamnya serta menyayomi lembaga dan anggota masyarakat (pasal 1 ayat 7).

Fisik dan Nonfisik

Akhir Ramadhan 1431 lalu, sejumlah tokoh budaya dan pagustian, berkumpul di Hotel Arum Banjarmasin. Terlihat di situ di antaranya Baderani, Pangeran Rusdi Effendi, Pangeran Perbatasari Rahmatillah, Pangeran Antasari Rahmatillah, Pangeran Wardiansyah Suriansyah Ideham, Adjim Ariyadi, Syamsiar Seman, Syarifuddin R, Taufik Arbain, dan masih banyak lagi termasuk Pangeran Khairul Saleh sendiri.

Selain bersilaturahim, mereka juga membicarakan kedudukan dan prospek lembaga adat dan pengembangan fungsinya. Baderani dalam prawacananya mengusulkan agar dikembangkan berbagai hal terkait dengan budaya Kesultanan Banjar. Secara fisik perlu dibangun artefak Keraton Banjar yang direncanakan berlokasi di Telok Selong Martapura Barat, dengan mengacu kepada arsitektur keraton Banjar tempo dulu. Dilengkapi dengan perabotan, lambang-lambang, simbol, pakaian adart, perlengkapan keamanan, persenjataan dan sejenisnya.

Apabila hal ini terwujud, kita mengusulkan agar di sekitar keraton juga dibangun miniatur atau diorama kisah-kisah perjuangan dan kepahlawanan yang terjadi selama Perang Banjar-Barito dan masa revolusi. Misalnya ketika Pangeran Antasari dan pasukan Datu Muning / Datu Aling menyerang Benteng Oranye Nassau Pengaron, kegiatan ritual pasukan Baratib Baramal, Demang Leman digantung oleh Belanda, Penghulu Abdul Rasyid dipenggal lehernya oleh temannya yang berkhianat, penyerangan Kapal Onrust di Sungai Barito hingga Proklamasi ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan pimpinan Hassan Basry.

Miniatur yang saya maksudkan mirip dengan yang ada di Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya, di mana di situ ada diorama penyiksaan para pahlawan revolusi, sejak diculik dari rumahnya di Jakarta hingga di Lubang Buaya. Jadi peristiwanya bisa saja tersebar di lain tempat, tapi miniaturnya dipusatkan di satu tempat. Hal ini penting agar generasi sekarang dan kedepan dapat lebih menghayati dan menghargai perjuangan para pahlawannya.

Kemudian secara nonfisik perlu dihidupkan adat-istiadat dan seni budaya Banjar, seperti seni tari,  mamanda,  lagu, bahasa, tata cara pergaulan, tradisi dan nilai-nilai yang hidup di era kesultanan Banjar. Reaktualisasi hal-hal seperti ini juga patut kita dukung karena semua itu sudah semakin luntur di era globalisasi sekarang. Tentu  dengan tetap mengindahkan nilai-nilai ajaran agama yang tertanam di masyarakat. Apabila ada tradisi yang tidak sesuai agama, misalnya mengarah kepada syirik, mitos, legenda yang irasional dan mengembangkan tahyul dan khurafat tentu tidak usah kita lestarikan. Hal ini tentunya juga berlaku bagi adat istiadat yang masih hidup di tengah masyarakat sekarang.

Karena itu pelestarian budaya ini perlu melibatkan peran dan kerjasama antara tokoh budaya dan tokoh agama (ulama). Budayawan Kalsel Adjim Arijadi dalam Harijadi Kota Banjarmasin ke-484  lalu mengatakan, di Banua Banjar ini berlaku prinsip: “Adat Basandi Syara, dan Syara Basandi Kitabullah”. Relatif sama dengan Minang Sumatra Barat. Jadi antara budaya dengan agama tidak dapat dipisahkan, budaya menjadi subordinat dari agama. Kita harapkan prinsip ini benar adanya. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*