Kesultanan Banjar dan Kerukunan Warga Bangsa

Oleh: Ahmad Barjie B

CLICKBORNEO.COM- Sultan Banjar H Khairul Saleh beberapa waktu lalu mengeluarkan maklumat berisi imbauan kepada masyarakat, khususnya warga Banjar di mana saja berada, baik di banua maupun luar daerah.

Sultan Banjar H Khairul Saleh

Ada tujuh  poin isi maklumat, yang intinya menekankan bahwa warga Banjar di mana pun merupakan bagian dari NKRI, karenanya wajib menjaga persatuan dan kesatuan, kerukunan, kebersamaan, persaudaraan, rasa bakulawarga dan badingsanak dengan sesama, menghindari saling hasut dan curiga serta kekerasan apa pun alasannya.

Warga Banjar yang juga banyak menjadi migran di daerah lain diminta pandai-pandai membawa diri, di mana batis bajajak di situ langit diusung. Selalu rakat mufakat dan bersama-sama memperjuangkan kebaikan dan perdamaian, dan jangan mambari supan banua. Diimbau pula agar rumput jangan maalahan banua. Menurut Sultan Banjar, dikeluarkannya maklumat ini dilatarbelakangi fenomana akhir-akhir ini, antara lain terjadinya berapa kasus kekerasan dan nuansa konflik di berbagai tempat dan daerah.

Maklumat ini saya kira sangat penting dan tepat, perlu diulang-ulang dan disosialisasikan oleh media, tetuha adat dan tokoh masyarakat, supaya warga Banjar di banua (Kalsel) dan luar daerah dapat mengetahui, menghayati dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun maklumat ini bernuansa Banjar karena lebih ditujukan kepada masyarakat Banjar dan banyak menggunakan istilah dan kearifan lokal Banjar, tetapi dapat diperlebar kepada kehidupan yang lebih luas dalam skala nasional.  Apalagi kita lihat nuansa konflik dan kekerasan yang terjadi selama ini lebih dalam lingkup nasional.

Urang Banjar menjadi migran ke luar daerah umumnya karena motif ekonomi untuk berdagang atau memperbaiki taraf hidup, menuntut ilmu, menjadi guru agama dan sejenisnya yang bersifat nonpolitik. Karena itu urang Banjar relatif jarang mengalami friksi, resistensi dan konfrontasi dengan pihak lain dan mereka tergolong pandai membawa diri.

Meski begitu di banua Banjar sendiri tidak tertutup kemungkinan terjadi konflik tersebut, baik karena alasan ekonomi, politik, sengketa lahan, lingkungan hidup dan sebagainya. Jadi, maklumat Sultan Banjar, baik sebagai antisipasi maupun tawaran solusi sangat tepat dan aplikabel.

Meneruskan Tradisi

Banua Banjar di masa lalu, termasuk daerah yang tenang dan kondusif. Jika kita amati sejarah Kerajaan Banjar (1400-1520) dan Kesultanan Banjar (1526-1905), maka konflik yang terjadi relatif jarang dan dapat dihitung dengan jari.

 Di masa transisi terjadi perang saudara antara Pangeran Tumenggung dengan Pangeran Samudtra (Sultan Suriansyah). Ending konflik ini adalah perdamaian antara keduanya disertai terjadinya islamisasi besar-besaran di tanah Banjar.

Di masa kesultanan juga pernah terjadi perebutan takhta antara Pangeran Adipati Anom dengan Pangeran Amrullah Baguskusuma (1663-1679). Terakhir menjelang meletusnya Perang Banjar terjadi lagi konflik antara Pangeran Hidayat versus Pangeran Tamjid. Tapi yang terakhir ini tidak lagi murni konflik internal, sebab sudah terjadi campur tangan kolonialis Belanda yang sangat kentara ingin memecah belah dan menjajah banua Banjar.

Tampak bahwa konflik yang terjadi lebih bersifat elit, bukan konflik horisontal sesama rakyat, bukan pula konflik vertikal antara rakyat dengan kerajaan. Relatif jarangnya konflik di banua Banjar merupakan hal yang membanggakan. Ini semua karena urang Banjar cukup teguh dalam memegang ajaran agama, norma adat dan budaya dalam pergaulan sosial.

Bahkan Sultan Adam (1825-1857), seorang raja yang alim dan bijaksana telah pula mengeluarkan UU Sultan Adam yang isinya tidak saja sangat sejalan dengan ajaran agama sekaligus juga memperkuat kerukunan. Penguatan agama dalam living reality urang Banjar dan solusi ishlah (baparbaik/badamai/bapatut) yang ditawarkan dalam menyelesaikan konflik, merupakan tawaran cerdas dan aktual hingga hari ini. (bersambung)

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*