Kesultanan Banjar dan Istano Pagaruyung

Oleh: Ahmad Barjie B

CLICKBORNEO.COM – Di Nagari Pagaruyung Kecamatan Tanjung Emas Kota Batusangkar Kabupaten Tanah Datar Sumbar, sekitar 50 km dari Bukittinggi dan 106 km dari Padang terdapat dua istana, yaitu Istano Basa dan Istano Si Linduang Bulan.

Istana Pagaruyung

Istano Basa dibangun oleh pemerintah tahun 1975 dan selesai 27 Desember 1983. Istana ini terbakar pada 27 Maret 2007 karena ujung gonjong, disambar petir.

Menurut Sutan Muhammad Taufik Thaib Tuanku Mudo Mahkota Alam, ujung gonjong berbentuk lancip ini diberi makna beberapa versi. Ada yang mengatakan itu mengisyaratkan tangan yang sedang menengadah berdoa ke langit, dan versi ini yang lebih diterima oleh masyarakat Minang. Versi lain mengatakan, ujung gonjong itu mengacu kepada perahu jung, yaitu perahu khas Cina atau perahu naga yang dulu banyak digunakan, karena sebagian campuran etnis Minang juga berasal dari Cina.

 Ujung gonjong ini juga disebut tanduk kerbau dan merupakan ciri khas rumah gadang atau bangunan khas di ranah Minang. Sekarang istana sudah selesai dibangun, cukup besar dan mewah baik dengan dana pemerintah pusat maupun daerah serta sumbangan donator yang diperkirakan mencapai Rp 19 miliar. Bahkan Ny Mufidah Jusuf Kalla ikut menyumbang Rp 1 miliar. Istano Basa dikelola oleh pemerintah daerah. Istano ini berdiri di atas tanah seluas 5 ha milik ahli waris keluarga Kerajaan Pagaruyung.

Istana peninggalan kerajaan dulu adalah istano Si Linduang Bulan. Kini istana  dalam proses penyelesaian. Pembangunan kembali dilakukan juga karena istana terdahulu terbakar tahun 2010. Menurut Rajo Bujang Muhammad Arifuddin yang saya wawancarai per telepon, istana ini pertama kali dibangun oleh Daulat Yamtuan Agung Sultan Alif Khalifatullah Maharaja Bagewang, anak Maharaja Pijayawarman sultan pertama Pagaruyung tahun 1561. Terbakarnya istana ini diduga karena sabotase, tetapi hingga kini belum terungkap siapa pelakunya. Beruntung api tidak menghanguskan semua benda pusaka kerajaan atau benda cagar budaya karena sebagian disimpan di rumah ahli waris kerajaan.

Ketika rombongan Kesultanan Banjar berkunjung ke sana kebetulan hari libur, jadi upacara penyambutan, perpisahan dan penyerahan cinderamata dipusatkan di halaman Istano Si Linduang Bulan, depan rumah  ahli waris Kerajaan Pagaruyung, yaitu Pemangku Daulat Yang Dipertuan Sutan Muhammad Taufik Thaib Tuanku Mudo Mahkota Alam. Dia mantan anggota DPD-RI dan staf ahli Gubernur Sumbar, yang cukup akrab dengan mantan Gubernur Kalsel HM Said yang ikut dalam rombongan.

Putranya bernama Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Rajo Mudo Adipati Arya Tuanku Maulana Muhammad Arifuddin Muningsyah Yamtuan Bujang Bagewang. Akhir  Oktober 2011 ia melamar Ratu Raja Ningrum Yunistina. Dia mohon doa restu kepada Raja Muda Banjar Pangeran H Khairul Saleh dan ibu beserta kerabat Kesultanan Banjar.

Segera Membangun

Satu hal kelebihan pemerintah daerah dan warga Minang setempat maupun di perantauan adalah segera membangun istana yang terbakar. Mereka menyadari bahwa istana merupakan asset, khazanah dan cagar budaya yang harus tetap eksis. Konteksnya tidak saja sebagai destinasi wisata, tetapi yang lebih penting sebagai bukti sejarah bahwa ranah Minang masa lalu pernah punya kerajaan. Dan kerajaan inilah yang berjasa besar memangku adat dan budaya Minang hingga tetap lestari.

Karena itu ketika Istano Basa agak lambat dibangun, karena kesulitan bahan bangunan (kayu), banyak masyarakat Minang yang protes. Pemerintah daerah setempat pun segera membentuk panitia untuk membangun dan menyelesaikannya. Akhirnya Istano Basa dapat dibangun dengan cepat, dan keuangan dianggap tidak masalah.

Berbeda dengan Istana Si Linduang Bulan, karena milik keluarga, maka yang lebih bertanggung jawab merealisasikan dan menyelesaikan pembangunannya keluarga besar kerajaan. Tetapi itu pun terbilang cepat, karena sejak terbakar 2010 kini pembangunannya sudah mendekati finishing. Saat rombongan Kesultanan Banjar ke sana, bangunan istana hampir rampung.

Baik Istano Basa maupun si Linduang Bulan, peruntukannya lebih bersifat sosial budaya. Berbagai upacara adat, acara budaya, perkawinan dan pertemuan adat dilaksanakan di istana tersebut.  Hal ini karena dari dulu istana dianggap pilar utama penopang budaya. (bersambung: Kesultanan Banjar disambut dengan Pantun)

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*