Karya Sastra Memberi Makna Mendalam

Sambungan Tulisan “Sastra sebagai Sarana Dakwah”

CLICKBORNEO.COM – Lantas bagaimana sebenarnya cara kerja sastra sehingga ia bisa menjadi sarana berdakwah yang sedemikian dahsyat itu?

Sastra dakwah 2

Sastra merupakan bagian dari kehidupan manusia karena menggunakan bahasa sebagai medianya. Bahasa itu sendiri sangat akrab dengan kehidupan manusia. Setiap saat manusia selalu menggunakannya sebagai alat berkomunikasi. Bahasa juga dipergunakan untuk mengekspresikan jiwa seni dan sastra.

Karya sastra yang baik tentu saja selalu memberikan makna yang mendalam dan mampu diaplikasikan oleh pembacanya.

Sastra merupakan salah satu media yang dipergunakan menyampaikan sebuah pesan atau amanat yang diselipkan di balik kata-kata. Sastra menyatukan pengalaman sosial dan batin seseorang. Sastra adalah sebuah dimensi yang menuntut kita untuk berpikir dan menghayati hidup secara aktif untuk menemukan dan memahami kebenaran. Seperti kata Danarto, sastra alat untuk menerima dan memberikan pencerahan.

 Berdasarkan bentuknya, sastra terbagi tiga golongan besar, yaitu prosa, puisi, dan drama.

 a. Prosa

Dunia rekaan, itulah dunia cerpen dan novel. Pengarang dengan sebebasnya mengekplorasi bahasa untuk menciptakan sebuah dunia. Dengan bangunan unsur intrinsik dan ekstrinsik, ia berusaha menyemai benih-benih kebenaran di dalamnya. Kadang benih itu tumbuh di mata pembaca, lalu berbunga dan bermekaran dalam sanubari. Akhirnya meimbulkan pesan dan kesan terdalam di jiwa. Ingatkah kita dengan trilogi novel karya Gola Gong. Pada-Mu Aku Bersimpuh, Biarkan Aku jadi Milik-Mu dan Tempatku di sisi-Mu, novel yang pernah diangkat oleh salah satu stasiun tv swasta sebgai sinetron religi ramadhan 2001.  Mungkin kita belum lupa dengan Ayat-Ayat Cintanya Karya Kang Abik yang penuh dengan nuansa Islam yang sangat kental mengukuhkan novel ini sebagai media dakwah. Banyak hikmah yang dapat dipetik, terutama mengenai bagaimana berinteraksi dengan sesama manusia, baik muslim maupun non muslim dan muhrim maupun bukan muhrim.

b. Puisi

Menulis puisi adalah bagaimana seseorang menyelami dunia kecil ini, mencari getaran-getaran hidup beserta kecipak mesranya, dan berusaha berdialog dengan jiwanya lalu  mengungkapkan dalam bahasa yang berjiwa. Puisi dapat menjadi sarana untuk mencari kebenaran atau memahami hidup. Juga untuk mewujudkan hidup (suatu   hal yang hakiki bagi insan). Di dalam puisi itu bukanlah hanya permainan kata dengan sejuta majas, melainkan sarana yang mampu memberikan kekuatan batin, kekuatan emosi, kekuatan inspirasi dan kekuatan estetis.

Di balik untaian kata singkat yang dirangkainya, seorang Amir Hamzah menulis Nyanyi Sunyi dan Buah Rindu yang memiliki sarat makna dan perasaan (feeling). Juga seorang Emha Ainun Najib yang menulis puisinya dengan etika dan estitika yang padat dan berekpresi hikmah. Inilah salah satu sarana penyair untuk berperan menjaga dan menumbuhkan nilai kesejatian sebuah agama.

c. Drama

Drama pada dasarnya berpijak pada dua cabang kesenian, yaitu seni sastra dan seni pentas. Sebagai karya sastra, drama harus ditulis dengan memenuhi syarat-syarat sastra. Begitu pula sebagai karya yang dipentaskan, drama harus memperhatikan pula syarat pementasan. Dibalut dengan  penokohan pada tokoh/pemain drama dan dialog sebagai interaksi langsung pemain, tentunya akan memudahkan sutradara menempatkan nilai-nilai moral dan kebenaran. Berdakwah melalui drama nampaknya lebih efektif disebabkan menggunakan tuturan langsung yang secara cepat dapat disimak penontonnya.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Al-Fushshilat: 33)

Nah, dari sarana manakah kita (memulai) untuk berdakwah? Masih ditunggu kreativitasmu! []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*