Janur Kuning Tanda Perhelatan

CLICKBORNEO.COM – Biasanya jika melihat di depan rumah dipasang umbul-umbul janur kuning, dengan sendirinya orang sudah bisa menduga bahwa di tempat tersebut sedang berlangsung sebuah perhelatan, entah pengantinan maupun acara lainnya.

janur

Hal ini diakui oleh Murjani yang sudah puluhan tahun menerima pesanan membuat umbul-umbul janur kuning. Menurutnya, hampir setiap minggu, untuk acara perkawinan yang dilaksanakan di gedung, ia mendapat pesanan janur kuning.

“Hampir setiap minggu saya dapat pesanan rata-rata dua buah umbul-umbul janur kuning. Sebetulnya permintaan itu lumayan banyak, tapi karena saya cuma punya anak buah satu orang, sanggupnya ya segitu,” ujarnya.

Selama ini dalam membuat janur kuning, Murjani lebih banyak berimprovisasi. Antara lain bentuk lampion, cakra yang dipadu dengan rumbai-rumbai.

Sedangkan janur duduk yang ada buah-buahannya, menurut staf Taman Budaya Banjarmasin ini, kebanyakan yang memakai adalah pengantin Jawa. Karena latar-belakang pelaminan penganten adat Jawa menggunakan kain putih transparan sehingga cocok kalau di samping kiri-kanan di taruh janur duduk.

“Sedangkan orang Banjar jarang menggunakan janur duduk. Cuma kadang-kadang saja. Karena pelaminan Banjar sudah penuh dengan motif air guci, jadi kalau ditambah lagi dengan janur duduk, rasanya kurang kontras,” kata Murjani.

Untuk para pemesan yang minta dibuatkan umbul-umbul janur kuning, sebaiknya disampaikan seminggu lebih dahulu. Salah satu kesulitan ialah untuk mendapatkan bahan-bahannya. Ia harus mendatangi pemilik kebun kelapa untuk membeli janur.

Sebab kalau membeli di pasaran bahannya kurang bagus. Karena yang dijual di pasaran itu daunnya sudah layu, dan memang diperuntukkan bikin ketupat. Sementara, untuk umbul-umbul janur kuning diperlukan daun kelapa yang segar dan lebar.

Ditambahkan pula, daya tahan dari umbul-umbul janur kuning itu cukup terbatas, sekitar dua hari saja. Karena itu kalau untuk perhelatan hari Minggu, biasanya ia merampungkan pada hari Jum’at atau Sabtu.

“Supaya agak awet janur kuning itu disemprot dengan pernis. Teman-teman lain ada juga yang menggunakan air garam,” jelasnya.

Diakuinya, sekarang ini mulai sedikit orang yang pandai merangkai janur kuning. Dulu ada sanggar “Budaya” pimpinan Adjim Ariadi yang menjadi tempat berhimpunnya para pakar pembuat janur kuning.

“Tapi, sekarang agak sulit dicari. Orang-orang kampung memang banyak yang bisa merangkai janur kuning, tapi bentuknya asal-asalan, karena mereka tidak belajar secara khusus. Lain halnya dengan pesanan, karena dibayar kami harus memperhatikan mutu,” tandasnya. (ali)

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*