Jangan Sepelekan Akte Kematian

 CLICKBORNEO.COM –  Kesadaran masyarakat untuk membuat akte kematian ternyata masih rendah. Banyak yang berlambat-lambat mengurusnya. Padahal, kalau lewat dari satu tahun harus melalui penetapan pengadilan. Itu artinya, akan lebih rumit dan makan biaya.

Kematian

 Menurut peraturan, semestinya bila ada kematian segera dilaporkan. Jangan setelah ada kepentingan mendesak, misalnya mau berbagi harta warisan, baru kepikiran untuk membikin akte kematian.

 Kusnadi, warga Kayutangi Banjarmasin, mengaku ketika ibunya meninggal dunia 5 tahun lalu, sama sekali tak terbersit niat mendaftarkan dalam akte kematian. Untungnya, semua aset keluarga atas nama ayahnya yang sampai kini masih hidup.

 “Baru belakangan saya sadar betapa pentingnya akte kematian. Itupun tahu dari teman. Kebetulan dia mau menggunakan sertifikat atas nama bapaknya yang sudah meninggal sebagai jaminan di bank, tapi ditolak. Kecuali, dia bisa menunjukkan akte kematian si orangtua dan dirinya sebagai ahli waris,” ujar Kusnadi.

 Begitu pula, tambahnya, kalau mau mengklaim asuransi korban yang meninggal dunia, pihak keluarga pasti dimintai akte kematian.

Masriah, pegawai Dispencapil Kota Banjarmasin, mengatakan akte kematian sangat penting di kemudian hari. Semua barang, seperti sertifikat tanah, mobil, sepeda motor, dan lain-lain, milik orang yang meninggal harus dibalik nama oleh ahli waris. Untuk bisa melakukan itu perlu ada akte kematian.

“Sayang, hanya sedikit orang yang mengerti pentingnya akte kematian. Jangankan penduduk kampung, PNS yang rata-rata berpendidikan tinggi pun banyak yang belum mengurus akte kematian keluarga mereka,” kata Masniah.

Masyarakat jika ditanya kenapa tidak segera membuat akte kematian, umumnya beralasan lantaran dirundung duka ditinggal pergi orang yang dicintai, sehingga tak terpikir lagi untuk mengurus akte kematian.

“Usah larut dalam kesedihan, kembalikan itu sebagai janji diri. Bagaimanapun hidup mesti dijalani. Jika emosi sudah stabil, segera bikin akte kematian. Sebab, suatu saat pasti diperlukan,” imbuhnya.

Jangan menunggu ketika diperlukan, baru mengurus akte kematian. Terkait dengan kebiasaan tersebut, Masniah mengaku pernah mendapat pengalaman buruk. Seorang warga mengamuk karena tidak diladeni membuat akte kematian.

“Bukannya tidak ingin membantu, tapi kita bekerja sesuai aturan. Orangtua dia meninggal 5 tahun lalu, karena baru sekarang bikin akte kematian, terpaksa harus lewat penetapan pengadilan. Dia maunya ‘main tembak’, tapi kita tidak berani mengambil resiko,” beber Masniah.

Mengurus akte kematian sebenarnya tidak sulit, asalkan semua persyaratan lengkap, 7 hari jam kerja bisa selesai. (ali)

              Syarat Membuat Akte Kematian

  • Melampirkan surat keterangan kematian dari lurah atau hasil visum dokter rumah sakit
  • Kartu Keluarga dan KTP orang yang meninggal
  • Akte kelahiran yang meninggal
  • Akte kawin atau surat nikah
  • AKte kematian  bagi suami/istri yang sudah meninggal
  • Akte kelahiran pelapor (anak) atau surat kuasa ahli waris
  • Proses penyelesaian 7 hari kerja
  • Biaya pembuatan Rp 50 ribu
  • Di atas setahun dari hari kematian harus lewat penetapan pengadilan.

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*