Islamisasi di Tanah Banjar

Oleh: Ahmad Barjie B

CLICKBORNEO.COM – Suksesnya dakwah Islam di mana saja hampir pasti disebabkan adanya andil kekuasaan (power). Saat Rasulullah saw berdakwah di Mekkah, dakwah berjalan lambat, bahkan berada dalam tekanan dan ancaman. Hal itu karena kekuasaan belum dimiliki, dan pemeluk Islam umumnya kelas menengah bawah dan hanya beberapa gelintir kalangan elit.

Dakwah

Giliran Rasulullah saw dan para sahabat berkuasa di Medinah, maka kemajuan Islam pun berlangsung pesat dan hampir tidak terbendung oleh kekuatan mana pun. Bahkan Imperium Persia dan Romanum kewalahan menghadapi kekuatan Islam.

Dakwah di Nusantara juga demikian. Suksesnya islamisasi di Sumatra, disebabkan para ulama berhasil menjalin kerjasama dengan kesultanan Samudra Pasei (SP) dan Aceh.  Abdurrauf Singkel (SP) dan Nuruddin Al-Raniri (Aceh) adalah contoh ulama besar yang sukses menjalin hubungan harmonis dengan kekuasaan untuk kepentingan dakwah. Begitu juga para Walisongo dan ulama lainnya sukses berdakwah di tanah Jawa karena dukungan Kesultanan Demak, Mataram, Banten dan seterusnya.

Keberhasilan serupa terlihat dalam Islamisasi di tanah Banjar Kalimantan Selatan. Menurut Ahmad Basuni (1984), Islam sudah masuk ke Kalimantan sejak abad ke-14, yang dibawa oleh para pedagang Cina, Arab dan India. Namun perkembangan Islam  berjalan lambat, sebab yang menganutnya hanya masyarakat biasa yang tinggal di pinggir pantai dan pelabuhan. Dakwah Islam baru berkembang pesat setelah Pangeran Samudra (bergelar Sultan Suriansyah) tahun 1495 berhasil naik tahta Kerajaan Banjar atas bantuan tentara Kerajaan Demak, sehingga mampu mengalahkan pamannya Pangeran Tumenggung yang beragama Hindu, yang sebelumnya membunuh ayahnya Pangeran Mangkubumi. Islamisasi besar-besaran terjadi periode ini, sebab masyarakat Banjar yang paternalistik mudah sekali melakukan konversi agama meniru agama rajanya.

[sws_related_postleft showpost=”4″ title=”BACA JUGA” bgcolor=”0a59c1″ fontcolor=”ffffff”] [/sws_related_postleft] Perkembangan Ialam semakin pesat di masa hidupnya ulama besar Kalimantan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812 M). Beliau mulanya  anak warga biasa yang diangkat anak oleh Sultan Banjar, kemudian disekolahkan ke tanah suci (Mekkah dan Medinah). Sebagai orang biasa saat itu mustahil untuk bisa menuntut ilmu agama sampai ke luar negeri. Tetapi karena peranan Kerajaan Banjar yang bersedia membantu dan membiayai secara penuh, Muhammad Arsyad bisa berangkat ke sana sampai menuntaskan pelajarannya. Beliau seangkatan dengan beberapa ulama besar Nusantara saat itu yaitu Syekh Abdul Wahab Bugis (asal Makassar), Syekh Abdurrahman Masri (Jakarta) dan Syekh Abdussamad Falimbani (asal Palembang). Mereka disebut Empat Serangkai Ulama Jawi, sebutan Indonesia saat itu (Halidi, 1982).

Setelah menuntut ilmu selama 30 tahun di Mekkah dan 5 tahun di Medinah, empat serangkai ini pulang ke tanah air. Setelah dijamu oleh pemerintah Hindia Belanda yang menaruh hormat pada mereka, selanjutnya kembali ke daerah asal masing-masing. Syekh Muhammad Arsyad kembali ke banua Banjar Kalimantan Selatan, yaitu ke ibukota Kerajaan Banjar yang sata itu berpusat di Martapura. []

 

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*