Imbauan Moral Dibalik Maklumat Sultan Banjar

Sambungan Tulisan “Kesultanan Banjar dan Kerukunan Warga Bangsa”

CLICKBORNEO.COM – Tak hanya di banua Banjar, di luar daerah pun urang Banjar jarang terdengar memicu konflik.  Mengapa pemadam (perantau Banjar) di luar daerah cenderung tidak pulang lagi ke banua Banjar, salah satunya disebabkan mereka sudah merasa aman, nyaman dan sejahtera hidup di rantau urang. Sebagai contoh, perantau Banjar di Indragiri Riau, Deli Serdang Bedagai, dll. Mereka eksis dan survival secara turun temurun. Mereka sudah mengamalkan apa yang dimaklumatkan Sultan H Khairul Saleh yaitu di mana batis bajajak di situ langit diusung.

Kesultanan

Meski jumlah urang Banjar banyak dan kuat secara sosial dan agama, tapi mereka tidak mau maalahan banua sana. Mereka tidak mau batajak las dan ingin manguasai urang. Keunggulan komparatif perantau Banjar, menurut Ketua Umum PB-NU Prof Dr KH Said Aqiel Siraj, MA, banyak yang tahu dan ahli agama, sehingga menjadi ulama yang membawa keteduhan dan religiusitas masyarakat. Tetap hormat dan loyal dengan warga dan pemerintah daerah setempat.

Tensi Tinggi

Kehidupan sosial tentu tak selamanya stagnan dan adem ayem saja. Saat ini tensi kehidupan terasa meninggi. Di tengah persaingan ketat di bidang ekonomi, politik, pekerjaan dan adanya ketidakpastian warga pedalaman karena lahan ulayatnya berada dalam ancaman kepemilikan, potensi konflik tetap ada dan perlu diwaspadai.

Eksploitasi penambangan batubara dan perkebunan sawit, penggunaan jalan negara dll, di satu sisi mendatangkan kesejahteraan bagi pengusaha dan pekerjanya, tapi di sisi lain juga rentan menimbulkan konflik, keresahan dan kerugian bagi warga lain. Maka apa yang terjadi di Bima NTB, Mesuji Sumsel dan Lampung, meski tidak kita kehendaki, tidak mustahil juga terjadi di daerah kita.

Pempimpin dan pejabat di daerah, sipil maupun militer serta semua pihak, tidak boleh over estimate dengan mengatakan daerah kita pasti aman dan berbeda dengan daerah lain.  Sama sekali tak ada jaminan kita akan selalu aman. Dulu sebelum terjadinya peristiwa Jumat Kelabu 23 Mei 1997, para pejabat kita juga memastikan daerah Banjar aman, kondusif dan terkendali. Tahu-tahunya, meletus tragedi berdarah yang boleh dikata terbesar dan terburuk dalam skala nasional.

Imbauan moral melalui maklumat Kesultanan Banjar merupakan bagian dari usaha mewujudkan kedamaian di daerah. Jika dihayati dan diamalkan tentu menjadi kata kunci bagi kerukunan dan keamanan banua. Tetapi seiring itu sangat perlu langkah nyata dari pemerintah daerah.

Berbagai keluhan masyarakat di perkotaan, perdesaan, pedalaman dan kawasan hutan, hendaknya segera direspon dan ditangani secara adil dan bijaksana. Keberpihakan kepada rakyat harus benar-benar diwujudkana oleh siapa pun terutama pemerintah beserta aparat keamanan. Tanpa itu konflik bisa saja terjadi. Ketika merasa diinjak dan terancam hak hidupnya, semut kecil yang penyabar pun terpaksa menggigit. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*