Ikhlas Menulis Membawa Berkah

Begitu banyak orang yang selalu mengharap hasil yang akan diterima, sebelum bersedia melakukan suatu perkerjaan. (Ari Ginanjar Agustian)

Ikhlas menulis

CLICKBORNEO.COM – Amaliah apapun jika didasari keikhlasan pasti akan terasa indah. Senantiasa membuahkan kebahagiaan. Bagi si pelaku letak kepuasan bukan pada hasil, justru didapat saat melakoni proses itu sendiri.

Kalau mau tahu perbuatan yang benar-benar dilandasi keikhlasan lihatlah prilaku para pemancing ikan. Andai dikalkulasi antara modal yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh sering tidak berimbang. Hitunglah, membeli anak wanyi buat umpan saja sudah berapa? Belum lagi harga tantaran, nilon, kawat, bensin — karena biasanya lokasi untuk memancing itu cukup jauh. Ditambah dengan pengorbanan dirubung nyamuk, kulit berbilur-bilur tergores ilalang, sementara ikan yang didapat tidak memadai. Sesudah itu, sepulang di rumah diomeli istri pula. Padahal, jika semua pengeluaran tadi dibelikan ikan di pasar tentu dapat lebih banyak.

Lalu, apa kata si pemancing ikan? “Karujutnya itu nah orang nang kadada bajual!”

Demikianlah kalau orang melakukan sesuatu karena ikhlas atau hobi, maka apapun hasilnya dia tidak terlalu peduli. Tetap enjoy dan happy. Tak ada istilah merasa rugi, apalagi kapok.

Begitu pula ketika kita ikhlas menulis, merangkai kata-kata akan menjadi kegiatan nan menyenangkan. Sarat dengan kenikmatan. Tak perlu ada beban apapun. Sebab, tugas utama penulis adalah menulis. Soal publikasi itu urusan belakangan. Kalau dimuat syukur, ditolak redaksi pun tiada mengapa. Terus menulis dan menulis. Kalau media cetak terlalu ‘angkuh’ untuk memuat karya kita, cari alternatif lain. Apalagi generasi sekarang cukup dimanjakan oleh kemajuan teknologi, siapapun bisa menggunakan fasilitas gratis weblog. Kita boleh sesuka hati mempublikasikan tulisan di dunia maya. Tak ada yang dapat menghalangi. Malah daya jangkaunya lebih luas, bisa diakses lintas negara.

Intinya, kalau kita ikhlas menulis insya Allah selalu ada cara buat berbagi ilmu, buah pemikiran, maupun hasil renungan kepada khalayak. Meskipun tulisan kita berulang kali tidak dimuat di media massa, jangan pernah patah semangat untuk terus menulis. Siapa tahu nanti bila sudah terkumpul banyak kita bisa membukukan dengan biaya sendiri atau atas sponsor pihak lain. Jadi, sekali lagi perlu ditegaskan, manakala kita ikhlas menulis, maka tidak ada alasan untuk kecewa.

Sebaliknya, jika kita menulis lantaran mengejar pamrih tertentu, inilah yang sering membuat mental down ketika apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh, tulisan ditolak redaksi, lalu menggerutu. Atau tulisan kita dimuat, tapi honornya tak kunjung datang — mungkin sekretaris media itu lupa mengirimkan atau wesel nyasar ke tempat lain — akhirnya merajuk tidak mau menulis lagi.

Ada juga seseorang menulis karena berambisi mengejar popularitas, berharap dirinya dicap sebagai sastrawan. Begitu orang bikin ensiklopedi ternyata namanya tidak tercantum dalam entri, dia pun mencak-mencak, merasa kiprahnya selama ini tidak diakui. Akibatnya apa? Motivasi dan minat dia untuk menulis menjadi kendor!

Ada lagi yang menulis lantaran ingin mendapatkan hadiah dan penghargaan. Dia hanya menulis ketika ada sayembara. Alhasil, produktivitas menulisnya sangat rendah. Sebab, dalam setahun bisa dihitung dengan jari berapa jumlah perlombaan. Itupun belum tentu masuk nominasi. Karena orientasinya begitu, biasanya apabila kalah si bersangkutan gampang kecewa. Padahal, yang namanya pengakuan dan penghargaan itu sangat relatif. Tidak bisa dijadikan pegangan.

Ini bukan berarti penulis tidak boleh mengharapkan honor, popularitas, serta berbagai bentuk penghargaan lain, percayalah jika kita ikhlas menulis semua itu akan datang ‘mengekor’ dengan sendirinya.

Kayak  apa pendapat dangsanak, akur juakah? []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*