Hidup Itu Harus “Move On!”

move onSaat ini Anita merasa hidupnya sangat terpuruk. Pada saatbersamaan, Anita putus cinta dan gagal dalam UMPTN. Sudah berminggu-minggu Anita tidak merasa bergairah untuk melalui hari-harinya. Sulit bercanda dengan teman-teman, tidak dapat fokus untuk belajar dan mengurung diri di kamar sudah makanan sehari-hari bagi Anita. Para sahabat dekat Anita sudah berusaha untuk membujuknya agar kembali bersemangat sampai akhirnya, tanpa sepengatahuan Anita mereka mundur satu persatu. Setelah berminggu-minggu Anita tidak memiliki tanda-tanda untuk memperbaiki hidupnya.

Sungguh sedih jika melihat kisah hidup Anita. Dalam waktu yang bersamaan dirinya harus mengalami pahitnya kehilangan cinta dan kegagalan akademik. Anita merasa gagal dalam percintaan dan penentu masa depan selama berminggu-minggu. Bahkan sampai kisah ini dituliskan, Anita belum juga “sembuh”. Sehingga hasilnya? Seperti yang diduga, jadinya Anita betul-betul kalah bahkan sebelum melangkah. Kekalahan “ ini” kadangkala diartikan sebagai gejala stress atau lebih parah dapat menimbulkan depresi jika sudah terjadi dalam waktu sangat lama. Stres bahkan perasaan depresi dapat menebalkan dugaan bagi seseorang bahwa dirinya memang orang yang gagal, hingga akhirnya dapat terbentuk lingkaran setan yang semakin sulit diputuskan rantainya.

Memutus lingkaran setan yang sudah terkait akan sulit sehingga perlu dilakukan tindakan segera. Jika depresi tidak segera ditanggulangi dan sudah dialami dalam waktu lama, akan dibutuhkan waktu tidak sebentar untuk merombak dan membangun pribadi orang tersebut kembali. Bahkan dibutuhkan adanya bantuan dari ahli terapis untuk seseorang yang terjatuh dalam lubang depresi menahun.

Kadang-kadang, banyak orang yang berpikir bahwa “ jika aku menderita, maka aku akan mendapat perhatian dari semua orang. Mereka dapat melihat aku berjuang” atau “Jika aku cukup menderita maka Tuhan akan lelah melihat penderitaanku dan akan memperbaiki hidupku”. Sebagian orang berpikir dengan membuat dirinya “sakit” maka dirinya akan mendapatkan simpati dari orang lain. Hal itu mungkin akan terjadi, namun simpati orang lain yang diberikan kepada seseorang dengan pikiran seperti di atas tidak akan bertahan dalam waktu lama. Mereka akan lelah dengan wajah sedih, orang tersebut dan akhirnya berangsung-angsur menjauh.

Jadi, Buat apa bersusah payah mencari penyakit dengan “menangisi” yang tidak ada dan lupa “mensyukuri” serta mengembangkan apa yang ada dalam diri kita? Jika sikap kita selalu menangisi kehidupan, maka selamanya kegagalan akan terus mengahantui dan merajalela. Sampai akhirnya, pikiran akan terfokus bahwa kita tidak bisa apa-apa. Ingat hukum pikiran, apa yang seseorang percayai baik itu salah atau benar maka orang tersebut akan bersikap sesuai dengan apa yang dipercayainya. Secara insting, orang tersebut akan mencari dan mengumpulkan fakta sesuai dengan apa yang dipercayainya.

Apa kesimpulannya? Seseorang tidak akan dapat bergantung dengan orang lain untuk terus melanjutkan hidupnya. Yang menentukan jalan hidup dan kebahagiaan itu adalah diri sendiri. Oleh karena itu, “Move on!”. Teruslah bergerak dan jangan menahan diri terhadap sesuatu yang tidak pasti, “menggantung” atau tetap “diam” di tempat. Hidup akan terus berjalan. Berikut beberapa tips untuk hidup terus “move on”:

  1. Ubahlah fokus pikiran. Tidak ada orang yang berhasil tanpa kegagalan dan kritikan dari orang lain. Ingatlah, tidak ada pohon yang dapat menjulang tinggi dengan kokoh tanpa terpaan angin. Oleh karena itu yang harus dilakukan jika merasa terpuruk adalah merancang visi dan misi hidup yang akan kita jalani selanjutnya. Buat rencana plan A, B dan tetaplah semangat, toh..roda saja berputar.
  2. Orang yang sengsara akan menyimpan daftar kebencian dalam diri mereka, maka dari itu maafkanlah orang lain dan kesalahan diri sendiri. Memaafkan berarti membiarkan suatu hal pergi. Langkah ini merupakan proses untuk mendapatkan hidup yang lebih bahagia dan tanpa beban. Sebenarnya memaafkan bukan berarti membiarkan orang lain menang, namun sebenarnya kita melakukannya untuk keuntungan diri kita sendiri karena kepahitan akibat menyimpan dendam itu membuat diri kita sakit.
  3. Jika menginginkan kehidupan yang bahagia, maka ciptakanlah kebahagiaan dalam diri sendiri. Tidak ada seorang pun yang dapat bergantung pada orang lain untuk membuat dirinya bahagia. Jika kita menginginkan kehidupan yang bahagia, dikelilingi orang yang bahagia atau pasangan yang membahagiakan dan berbahagia bersama kita. Yang harus dilakukan kita lakukan adalah tersenyum terlebih dahulu kepada orang lain. Bebahagialah dahulu sebelum menemukan pacar atau teman yang bahagia. Sekali kita melihat sisi cerah dalam kehidupan maka orang bahagia lainnya akan ingin bersama kita. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*