Helvy Tiana Rosa: Pelopor Fiksi Islami

CLICKBORNEO.COM – Hingga akhir dekade 80‑an fiksi remaja di Indonesia cenderung didominasi oleh tema‑tema percintaan yang mengarah kepada pergaulan bebas. Hal itu tentu saja kurang sehat bagi perkembangan mental generasi muda.

Helvy T

Kemunculan Helvy Tiana Rosa yang sarat mengusung cerpen‑cerpen bernuansa Islami, dianggap sebagai pembawa angin segar. Bagi wanita kelahiran Medan, 2 April 1970 ini, menulis fiksi bukan semata untuk memberikan hiburan, melainkan dalam rangka pencerahan.

“Sebenarnya sejak berjilbab tulisan‑tulisan saya lebih bernuansa Islami. Mungkin karena ada semacam komitmen diri untuk mengatur ekspresi saya dalam bingkai Islam. Dan sungguh, saya ingin sekali orang‑orang dapat merasakan keindahan Islam, tanpa merasa digurui, setelah membaca tulisan saya,” ungkap Helvy Tiana Rosa.

Terkait aktivitasnya sebagai penulis, ia tidak terlalu mempedulikan dengan berbagai cap yang diberikan orang kepadanya. Yang penting bagi Helvy, bila tulisan itu membawa kebaikan, maka bernilai ibadah di sisi Allah. Dan, kalau sudah menyangkut ibadah, setidaknya dia akan menjelma orang yang ‘rakus’ dan ‘ambisius’.

Atas dedikasinya itu, tak heran jika sampai kini ia telah menerbitkan lebih dari 30 judul buku, baik berupa kumpulan cerpen, novel, maupun esei. Malah, beberapa karya Helvy diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Jepang, Perancis dan Arab.

Lantaran dilandasi niat tulus untuk menyebarkan syiar Islam, karya‑karya Helvy pun mampu menggugah hati para pembacanya. Misal cerpen Ketika Mas Gagah Pergi, banyak remaja putri yang mengaku terharu lantas memutuskan untuk berjilbab setelah menyimak kisah tersebut. Begitu pula, tidak sedikit ibu‑ibu yang menamai anak mereka dengan mengadopsi tokoh‑tokoh cerita yang dibuat Helvy.

Merasa Gregetan

Dua tema kerap mewarnai sebagian besar tulisan Helvy Tiana Rosa, yakni tema kecintaan pada Ilahi dan perjuangan kaum tertindas. Mengapa?

Bagi dia menulis cerpen itu adalah refleksi dari misi amar ma’ruf nahi mungkar. Dalam hal ini Helvy berusaha mengajak pembaca merenungi kembali hakikat diri sebagai hamba Ilahi. Selain itu juga ingin menginformasikan sekaligus menggugah kepedulian mereka tentang pelanggaran hak‑hak asasi manusia di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya.

Helvy mengaku sudah menulis epik (kisah perjuangan kaum muslimin di mancanegara, belakangan juga di Indonesia) jauh sebelum bergabung dengan Majalah Annida yang didirikan 1991.

“Mulanya karena saya merasa geregetan dengan berbagai kejadian yang menimpa kaum muslimin di dunia. Terutama fenomena tentang negeri mereka yang dijajah, tetapi ketika masyarakatnya bangkit melawan penjajahan dan pembantaian, malah dituduh sebagai teroris. Sementara penjajah durjana justru dianggap sebagai cinta damai,” ungkap Helvy Tiana Rosa.

Terus terang, tambah alumni Sastra Arab UI ini, ia acapkali kecewa dengan berita di berbagai media yang sering terdistorsi, terutama bila menyangkut dunia ketiga dan kaum Muslimin. Konspirasi pembentukan opini publik melalui media dilakukan pihak‑pihak tertentu demi keuntungan mereka.

Contoh yang paling gampang adalah kasus Palestina. Para pejuang Palestina, Hamas, yang ingin memerdekakan negeri mereka setelah puluhan tahun dijajah Israel malah dicitrakan sebagai teroris dan fundamentalis. Pemutarbalikan faktanya sangat terasa. Bukankah seharusnya mereka yang setiap hari menjajah, memenjarakan, membantai, membunuhi anak‑anak, wanita dan penduduk sipil di Palestina itu yang pantas disebut teroris? Bagaimana mungkin pemuda‑pemuda Palestina yang membela diri bersenjatakan batu bisa disebut teroris, sementara Israel yang menggempur dengan persenjataan berat dikatakan sebagai orang‑orang yang cinta damai?

“Saya menulis cerpen tentang Afghanistan, Moro, Myanmar, Liberia, Palestina, Azerbaijan, Aljazair, Kashmir, Chechnya, Bosnia Herzegovina, Kosovo, Rwanda, Somalia dan lain‑lain. Ketika prahara melanda Indonesia kita: Aceh, Maluku, Poso, Sampit, saya merasa lebih berkewajiban lagi untuk mengangkat persoalan ‘di depan mata’ tersebut dalam cerpen saya,” tandas peraih Ummi Award kategori Ibu Teladan Utama dari majalah Ummi ini. (ali)

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*