Hati Bersih Bisa Membuat Diri Bahagia

Hati Bersih Bisa Membuat Diri BahagiaPernahkah saat kita meninggalkan rumah dengan keadaan marah lalu beberapa saat kemudian bertemu dengan orang lain yang juga marah?  Atau saat kita merasa jengkel dengan  sahabat kemudian kita menemukan fakta bahwa ada sahabat lain yang juga jengkel kepada kita? Namun, apa yang terjadi jika sebaliknya? Saat kita jatuh cinta, dunia terasa begitu indah bahkan saat kita dipaksa harus naik angkutan umum yang penuh dengan penumpang. Semua penumpang di dalam angkutan  tersebut  terasa sungguh sangat baik hati dan ramah.

Dunia merupakan sebuah cermin. Apa yang dirasakan seseorang saat bercermin, itulah apa yang akan dia rasakan saat melihat pantulan dirinya di cermin. Apa yang dirasakan seseorang di dalam dirinya, itulah apa yang akan orang tersebut rasakan di luar dirinya.  Itulah sebabnya, jika kita merasa  orang – orang di jalanan tidak bersahabat, maka merubah orang-orang di jalanan itu adalah hal yang sangat mustahil! Jika kita merasa tidak ada seorang pun yang menghargai diri kita karena prestasi yang telah dicapai, maka mengubah orang lain untuk menghargai prestasi kita juga adalah tindakan yang sia-sia. Yang perlu kita lakukan sebagai jalan terbaik adalah dengan mengubah sudut pandang diri kita sendiri.

Pakar psikologi sosial Indonesia, Professor Sarlito menyatakan bahwa setiap orang memiliki priming, yaitu proses untuk mengakses sifat-sifat yang ditemukannya pada orang lain berdasarkan dengan pengalaman saat ini.  Itu lah sebabnya, saat kita merasa kesal terhadap sesuatu lalu berjalan-jalan dan menemukan orang lain yang tidak tersenyum atau menyapa pada kita, dengan mudah kita dapat menyimpulkan bahwa orang tersebut kesal pada kita.

Hal itu pula yang coba dijelaskan oleh Maslow, Psikolog humanis yang menyatakan bahwa setiap manusia sejatinya dilahirkan dengan memiliki inner nature di dalam dirinya. Inner nature dalam agama dijelaskan dengan fitrah atau kesucian. Menurutnya, jika fitrah membimbing kehidupan seseorang, maka orang itu akan tumbuh dengan sehat,  produktif dan bahagia.

Seseorang yang senantiasa menjaga fitrah di dalam dirinya akan berpikir positif terhadap panggung cermin di hadapannya. Sebaliknya, jika fitrah itu ditolak seperti jika disaat seseorang memiliki pikiran yang tidak baik terhadap orang lain, merasa rendah diri, kecewa, marah pada diri sendiri atau orang lain maka orang itu akan merasa sakit secara mental atau bahkan fisik, destruktif dan menderita. Maslow menyatakan ketika seseorang menolak fitrah maka didalam dirinya  sendiri sebenarnya telah terjadi konflik batin.

Akibatnya, konflik batin yang terjadi akan mudah mengakibatkan  perasaan  cemas, takut bahkan sampai menyebabkan luka psikologis. Jika dipelihara, kerusakan psikologis akibat diri yang tidak memelihara fitrah akan membawa seseorang melihat dunia dengan pantulan cermin diri yang tidak menyenangkan pula.

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*