Halarat: Penebus Rasa Bersalah Menjatuhkan Qur’an

CLICKBORNEO.COM – Ahad pagi itu Rusmadi bersama istrinya sibuk membenahi ruangan rumahnya. Ketika ia membersihkan bufet, tak disangka Alquran yang berada di rak terjatuh. Karuan saja warga Kayu Tangi, Banjarmasin ini kaget seraya mengucap istighfar.

al-quran

Rusmadi sempat bingung. Seingatnya waktu kecil dia sering diwanti-wanti orangtuanya kalau menjatuhkan Alquran musti menyelenggarakan halarat, karena dikhawatirkan bakal kena semacam kualat. Tapi, di satu sisi sudah sekian puluh tahun ia tidak pernah lagi menyaksikan ada orang yang melakukan halarat.

 Setelah sempat bertanya ke beberapa Tuan Guru, walaupun dikatakan itu bukan suatu keharusan mutlak, karena tidak ada nash Alquran maupun hadis yang menyebutkan hal itu, namun supaya tidak mengganjal di hati dia berkeputusan melangsungkan halarat. Dan memang setelah itu baru batinnya merasa tenang.

 Menurut Noorsehat, mubalighah asal Kelayan B Banjarmasin, memang kalau Alquran terjatuh sebaiknya dilakukan halarat. Esensinya tiada lain sebagai pengakuan dari rasa bersalah, semacam orang bayar qifarat.

 Prosesinya pun cukup sederhana, setelah menyediakan nasi ketan dengan mengundang segelintir tetangga, lalu dibacakan doa selamat dan doa khusus halarat.

“Dulu orang-orang bahari talibasi Alquran saja, apalagi sampai terjatuh, mesti dihalarati. Tapi, setelah tahun 1980-an saya tidak pernah lagi menyaksikan orang melakukan halarat. Barangkali ini indikasi menurunnya tingkat penghormatan terhadap Alquran. Sekarang ini istilah kata terduduki Alquran pun mungkin orang tidak mau mengaku,” ujar Noorsehat.

[sws_related_postleft showpost=”4″ title=”BACA ARTIKEL LAINNYA:” bgcolor=”0a59c1″ fontcolor=”ffffff”] [/sws_related_postleft] Dalam kenangan Noorsehat, waktu kecil kalau dia mau mengaji selama di perjalanan Alquran dijunjung di atas kepala. Tapi, anak-anak sekarang dengan enteng menaruh di tas.

 Guru ngajinya dulu, yang kebetulan kakeknya sendiri, tidak semata mengajari mengaji. Beliau juga kerap mengingatkan bahwa Alquran itu kumpulan Kalamullah, jadi jangan sampai disepelekan. Rasulullah pun menerimanya sampai menggigil. Tapi, melihat kenyataan sekarang hatinya merasa miris.

 “Tak jarang pada waktu baantar jujuran pas saat baharu duet ibu-ibu berebutan, tanpa mempedulikan Alquran yang ada di samping,” gugat Noorsehat.

 Ditambahkannya, halarat dimaksudkan dalam rangka memuliakan Alquran. Orang-orang dulu kalau sampai terjatuh Alquran menyesal luar biasa, dan rasa bersalahnya tidak akan pupus sebelum melakukan halarat.

 “Anak-anak sekarang coba tanya apa itu halarat, saya yakin banyak yang tidak tahu!” tandasnya. Karena itu, ia mengharapkan jika bisa tradisi yang sarat dengan nuansa keagamaan ini hendaknya dilestarikan kembali.[]

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*