H. Syarifuddin R, Datuk Mangku Adat Termuda

CLICKBORNEO.COM – Untuk menghidupkan kembali Kesultanan Banjar yang telah dihapus Belanda tahun 1860, dibentuklah Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar (LAKKB) di 13 kabupaten/kota yang ada di seluruh Kalsel.  Karena tidak mungkin lagi meyusun struktur kepengurusan berdasarkan zuriat, maka yang terpenting orang itu keturunan Gusti dan menaruh minat yang besar terhadap kebudayaan Banjar.

h.syarifuddin-r Kebetulan hal itu sejalan dengan Peraturan Menteri Nomor 39 Tahun 2007 yang memfasilitasi organisasi kemasyarakatan di bidang kebudayaan, keraton dan adat. Istilahnya, dalam rangka maangkat batang tarandam.

Ada empat orang yang dipercaya sebagai Datu Mangku Adat, yakni Suriansyah Ideham, Syamsiar Seman,H.  Adjim Ariadi, dan yang termuda Syarifuddin R.
Fungsi mereka untuk memberikan masukan-masukan kepada Sultan, nilai-nilai budaya apa saja yang perlu dilestarikan dan dikembangkan dalam konteks kekinian. Diminta atau tidak, para Datu Mangku Adat tetap memberikan rekomendasi dan usulan-usulan.

“Langkah-langkah Datu Mangku Adat berupaya menjembatani pelestarian budaya dari rakyat ke Sultan Banjar. Sedangkan implementasinya dilakukan bersama-sama,” jelas Syarifuddin.

Di samping memberikan masukan,  tambah mantan Kepala Taman Budaya Provinsi Kalsel ini, juga action ke masyarakat. Pihaknya akan menginventarisir apa-apa yang tidak ada di masyarakat, entah itu berbentuk tulisan maupun cagar budaya. Aset yang dihasilkan itu, baik berupa buku-buku maupun benda-benda antik, setelah keraton berdiri akan diletakkan di sana. Penataan seperti  itu yang menjadi tugas Datu Mangku Adat.

 “Orang kadang menghakimi generasi muda sekarang tidak senang dengan budaya Banjar. Mereka pun menjawab, kami mau mempelajari tapi mana bahannya. Jangan sampai hal seperti itu terjadi lagi,” ujarnya.

Saat disinggung perihal dipilihnya dia sebagai salah seorang Datuk Mangku Adat, Syarifuddin sendiri sempat melontarkan bahwa masih banyak tokoh lain yang tua-tua. Ternyata alasan mereka yang memilih, karena ia sejak jadi PNS sampai pensiun, ditugaskan selama 32 tahun semata di lingkup kebudayaan. Tidak pernah bekerja di bidang lain.

“Jadi, kalau mengenai kepakaran atau kepintaran tentang budaya Banjar itu relatif,” ucap pria kelahiran Amuntai 12 Februari 1953 ini rendah hati.

Dalam kesehariannya Syarifuddin memang dikenal sebagai sosok yang low profile. Ia mudah bergaul dengan siapapun, baik tua maupun muda. Dedikasinya terhadap budaya Banjar sudah tak perlu diragukan. Hampir di setiap kegiatan seni budaya, sepanjang tidak berhalangan ia berusaha untuk selalu hadir. Bahkan, dalam kegiatan skala kecil seperti diskusi atau bedah sastra yang tidak banyak dihadiri orang, Syarifuddin pun sering terlihat. Hal itu mengindikasikan betapa besar minatnya terhadap seni budaya di daerah ini.

Syarifuddin sendiri sudah banyak menghasilkan karya tulis seputar  budaya Banjar, baik yang berbentuk buku maupun yang dipublikasikan di media massa. Termasuk menjadi  peserta atau pemakalah di berbagai seminar dan lokakarya nasional dan luar negeri.

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*