Guru Sekumpul, Ulama Kharismatik

 KH. Muhammad Zaini Ghani dilahirkan di Desa Tunggul Irang Seberang Martapura, malam Rabu 11 Februari 1942. Silsilah beliau bertemu langsung dengan ulama besar Asia Tenggara, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Guru-Sekumpul

Sejak usia 7 tahun sudah tekun menimba ilmu agama di Madrasah Kampung Keraton. Dua tahun berselang pindah ke Madrasah Diniyah Darussalam di Pesayangan Martapura. Setelah puluhan tahun mendalami ajaran Islam di sini hingga tamat, Zaini Ghani muda meneruskan ke Ponpes Datu Kalampayan di Bangil, Jawa Timur. Ia berguru langsung dengan KH Syarwani Abdan yang juga berasal dari Martapura, baik secara klasikal maupun privat.

Setelah sekian lama berguru di Bangil, beliau kembali ke Martapura dan langsung diminta jadi pengajar di almamaternya, Pesantren Darussalam. Di samping sebagai ustadz di ponpes ini, beliau juga membagikan ilmunya kepada santri-santri yang sengaja datang ke rumah.

Salah satu kelebihan Guru Ijai adalah memiliki suara yang merdu, sehingga banyak orang yang terpesona dan terpukau kala mendengar beliau melantunkan ayat suci Alquran. Selain itu, beliau juga berhasil mewariskan seni membaca Maulid Habsyi dengan irama yang bervariasi. Amaliah yang dilakoni secara berkesinambungan yakni membaca shalawat Nabi Muhammad, baik yang dikemas dalam bentuk syair-syair Burdah, Dalail Khairat, maupun Maulid Habsyi.

Membuka pengajian sebenarnya sudah lama beliau lakukan, tepatnya ketika masih tinggal di Kompleks Keraton. Kala itu bersama-sama Guru Salman Mulia menggelar majelis taklim setiap Kamis petang hingga malam Jumat. Jamaahnya pun membludak sampai halaman rumah.

Seiring dengan kian membanjirnya jumlah jamaah yang datang sehingga tempat yang ada tak muat lagi menampung, akhirnya tahun 1988 lokasi pengajian berpindah ke Kompleks Sekumpul. Ribuan orang selalu memadati pengajian Guru Sekumpul, karena ceramah yang beliau sampaikan mampu menyejukkan kalbu.

Popularitas dan kharisma KH Muhammad Zaini Ghani terus menanjak. Pengajian rutinnya selalu membludak dihadiri oleh jamaah Muslim dari Kalsel, Kalteng, Kaltim, Pulau Jawa, bahkan Malaysia dan Brunei Darussalam. Beliau juga kerap mendapat kunjungan dari tamu-tamu penting negeri ini. Mulai dari artis, pejabat negara, petinggi militer, hingga para menteri dan presiden beserta wakilnya.

Guru Sekumpul meninggal dunia 10 Agustus 2005 di Martapura, setelah beberapa hari lamanya dirawat di Singapura.  Kini makamnya setiap hari ramai dikunjungi kaum muslimin yang ingin berziarah. Haul beliau juga setiap tahun selalu diperingati.  []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*