Geta Kencana, Tempat Tidur Khas Banjar

CLICKBORNEO.COM – Pada masa kerajaan Banjar (1526-1860), tempat raja beristirahat dinamakan Geta Kencana. Geta adalah Peraduan dan Kencana adalah emas. Istilah ini timbul mungkin karena tempat raja beristirahat ini berdekorasi hiasan-hiasan yang gemerlapan terbuat dari Air Guci (Rembuci) dan manik-manik berwarna keemasan.

Ranjang Pengantin

“Setelah Kerajaan Banjar dihapuskan pada tanggal 11 Juni 1860, Geta Kencana masih dipakai oleh golongan bangsawan Keraton Banjar di Martapura,” ujar Kepala Museum Lambung Mangkurat, Hj Siti Khadijah.

Perkembangan selanjutnya tempat tidur ini tidak hanya dipakai oleh kaum bangsawan, tetapi juga oleh masyarakat biasa yang tinggal di sekitar bekas Keraton Banjar. Mereka membuat Geta Kencana sebagai tempat tidur pengantin, khususnya bagi masyarakat yang berkecukupan. Sampai sekarang masih terdapat daerah-daerah yang menggunakan tempat tidur ini, yaitu Desa Kampung Melayu di Kecamatan Martapura, Desa Cempaka dan Sei-Tiung.

Di daerah ini juga masih terdapat rumah adat Banjar seperti rumah Bubungan Tinggi, Palimasan Palimbangan, Cacak Burung, dan lain-lain. Tempat tidur  Geta Kencana banyak terdapat dalam rumah-rumah tradisional Banjar yang biasanya terletak di Anjung, yaitu ruang yang berada di bagian kiri dan kanan rumah yang fungsinya memang untuk ruang tempat tidur.

Di anjung ini terdapat beberapa tempat tidur, tergantung dari beberapa anak perempuan yang sudah menikah.

Menurut Khadijah, perkawinan suku Banjar memang bersifat matrilokal yaitu hal kebiasaan yang menentukan bahwa pengantin menetap di sekitar pusat kediaman kaum isteri. Mempelai wanita membawa suaminya tinggal di rumah orangtuanya sementara waktu sang suaminya belum dapat membangun rumah sendiri, dan menurut adat kebiasaan tempat tidur pengantin dimaksud tidak boleh diturunkan atau dilepas kalau belum sampai jangka waktu satu tahun.

Tempat tidur merupakan tempat yang sakral, karena dianggap tempat awal yang suci untuk memulai kehidupan yang baru, oleh sebab itu orang Banjar mengadakan acara selamatan, sebelum menata (memajang) tempat tidur. Selamatan tersebut dimaksudkan untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar terhindar dari segala gangguan dalam mengarungi hidup berumahtangga, agar didapat keharmonisan, aman, tentram dan penuh kedamaian.

“Memajang tempat tidur dilaksanakan sehari sebelum upacara perkawinan. Pada waktu menggantung kelambu acara selamatan dimulai dengan dipimpin oleh orang yang lebih tua dan berpengalaman, semua peserta acara selamatan adalah kaum wanita. Kue-kue tradisional disajikan di atas tempat tidur, kelambu ditutup dengan beberapa orang di dalamnya, salah satu membaca doa selamat,” jelas Siti Khadijah.

Selesai upacara diadakan jamuan makan kepada famili-famili terdekat dengan lauk khas “Gangan Gadang”. Gangan Gadang adalah sayur dengan bahan bagian paling muda batang (gedebok) pisang yang dicencang sekecil-kecilnya. Sayur dari batang pisang ini bermakna “Dinginan” (Adem Ayem) dalam mengarungi bahtera rumah tangga. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*