Fotografi Panggung dan Konser Musik

OLYMPUS DIGITAL CAMERACLICKBORNEO.COM – Siapa bilang fotografi panggung itu sulit? Justru dikondisi dengan tatanan lampu yang mewah membuat hasil jepret menjadi “wah” terlihat. Bahkan lighting sekelas mega konser meski dipotret memakai kamera handphone sekalipun akan terlihat istimewa.

Namun tak semua keadaan sama. Bukan maksud menghina atau meremehkan, tapi jika boleh ditanyakan bagaimana settingan lighting panggung untuk acara lokal di daerah kita?

Mendiskusikan hal terkait dengan fotografi panggung atau konser nyatanya bisa dikatakan susah-susah gampang. Justru cenderung menyulitkan. Terlebih para fotographer yang terbiasa dengan seting auto atau mereka yang lebih lihai memotret portrait, landscape, dan lainnya.

Memotret suatu momen pada acara panggung membuat fotografer berkejaran dengan kondisi gelap-terang serta lighting yang berganti-ganti warna, momen yang tidak terduga, jarak fokus yang cepat berubah-ubah dan hiruk-pikuk suasana. Tergantung show apa yang kita saksikan saat itu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERAJangan buru-buru dulu, itu baru permulaan dari persoalan teknis. Sama pentingnya dengan persoalan non seperti izin khusus untuk memotret konser besar. Lantas bagaimana proses mendapatkannya?

Untuk bisa sukses, dalam artian mendapat gambar bagus, anda harus bisa mengoperasikan kamera tanpa melihat (blindly). Jari-jari anda harus menjadi satu kesatuan dengan tombol-tombol di kamera. Gonta-ganti ISO, titik fokus, speed, aperture, harus dioperasikan secara cepat tanpa mata meninggalkan viewfinder. Kuasai kamera secara total!

Mode apa yang terbaik dalam memotret konser? Dalam hal ini setiap fotografer tidak bisa memberi jawaban pasti. Tersebab setiap fotografer punya gaya. Mereka punya selera untuk menggunakan mode mana yang paling nyaman dan cepat digunakan. Saya pribadi cenderung memakai mode A (Aparture). Itu pun jika kondisi lampu sudah sedemikian rupa bagusnya. Namun jika lampu panggung tak seperti konser besar seperti lampu panggung pergelaran teater saya lebih mengandalkan mode M (Manual).

Hal demikian tersebab pengukuran cahaya panggung tak pernah mutlak. Contohnya bisa spotlight yang datang dari berbagai arah. Bisa backlight, hairlight, dan sebagainya. Dengan mode M menghadapi cahaya demikian menyebabkan metering kamera mengukur cahaya panggung secara akurat. Meski terkadang sang vokalis atau aktor panggung teater sering dalam keadaan under exposure.

OLYMPUS DIGITAL CAMERAShutter Speed bukan berarti berperan lebih dari Aperture. Tapi tetap saja bukaan itu penting untuk mengatur speed yang seimbang menahan getaran. Seminimal mungkin saya menghindari speed di bawah 1/20. Itu juga lantaran menginginkan efek gerak pada bingkai. Berbeda jika fotografer ingin mem-freeze gerakan personilnya atau aktor yang enerjik. Maka sudah tentu di angka minimal 1/600 sampai 1/200. Bahkan jika benar-benar freeze pakai 1/250 ke atas.

Untuk ISO kita menggantungkan kepada kemampuan kamera. Biasa para produsen akan menggebrek kemampuan ISO tinggi di produk terbaru. Seperti kita ketahui, keadaan panggung yang biasanya dim-light memerlukan Speed tinggi. Dan penggunaan flash tidak diperbolehkan, sangat dilarang. Disinilah kemampuan ISO sangat diandalkan. Kenali baik-baik kamera. Jika noise di ISO 3200 sudah amat mengganggu dan tak bisa ditoleran, saya rekomendasikan untuk meminjam kamera yang lebih menopang kemampuan ISO tinggi. Namun sepanjang jejak rekam saya memakai DSLR, ISO 800 sampai 1600 sudah cukup memadai.

White Balance bisa saja fotografer tentukan di Auto. Namun jika pada panggun teater terlalu kuning, tak ada salahnya WB diletakkan pada pilihan Lampu Pijar (3000 Kelvin) agar warna asli tetap dipertahankan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERAFotografer saya kira lebih beruntung karena mendapatkan tempat special dibandingkan penonton lainnya. Itu tergantu EO mana yang menyelenggarakan. Sebagian EO yang berpengalaman dalam event besar akan memudahkan para fotografer untuk mengambil gambar. Baik spor khusus atau keleluasaan untuk selalu melewati batas security. Semua tergantung penyelenggara.

Pabila fotografer berkemampuan cukup untuk memiliki body dua. Maka bawa keduanya dengan lensa terpasang tele dan wide. Tersebab akan menyusahkan si fotografer sendiri jika mengejar momen sembari masih mengganti-ganti lensa. Resikonya lensanya malah jatuh.

Jangan asal jepret, tunggu momen atau lighting yang asik. Terkadang flare malah bagus memberikan kesan tersendiri pada bingkai foto. Kontras, white balance yang tepat dan kaya warna seperti ini sulit didapat jika bukan karena tata lighting panggung. Bahkan fotografer bisa menggeber lebih dalam ketika mengambil dalam format RAW. Warna-warna yang memesona akan terlihat lebih “Wah” setelah diolah. Persoalan Non Teknis akan kita bahas belakangan. Sejumlah foto yang saya sisipkan di dalam tulisan ini menggunakan kamera DSLR Olympus E-520, Canon Powershoot G11, dan Canon Ixus 105.

ananda_sanggar Ar-Rumi saat menampilkan naskah berjudul Warna karya AbduSukur pada Festival Monolog yang digelar Dewan Kesenian Kota Banjarbaru. Pementasan akan kembali dilaksanak hari ini hingga pengumuman malam harinya

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

ananda_Reuni Dewa 19 dan Ari Lasso pada gelaran A Mild Soundrenaline di Lapangan Tembak Rindam Banjarbaru18

ananda_sanggar Ar-Rumi saat menampilkan naskah berjudul Warna karya AbduSukur pada Festival Monolog yang digelar Dewan Kesenian Kota Banjarbaru. Pementasan akan kembali dilaksanak hari ini hingga pengumuman malam harinya2

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*