Ekspor Bulus Dibatasi Sesuai Kuota

CLICKBORNEO.COM – Bisnis kura-kura dan labi-labi (bulus) lumayan menjanjikan, mengingat harganya yang sangat mahal. Selain sebagai bahan obat-obatan tradisional, jenis satwa ini juga jadi konsumsi lokal dan ekspor. Hongkong, Cina, Taiwan, Singapura, Jepang, dan Malaysia merupakan  negara tujuan ekspor.

bulus-muda

“Di Hongkong pada bulan September sampai Februari terjadi musim dingin. Di sana bulus untuk menghangatkan badan. Dari segi kesehatan, terbukti mengandung antibiotik yang tinggi, sehingga orang tidak gampang terkena radang tenggorokan,” kata Frans, pengusaha bulus di Banjarmasin.

Bahkan, di Hongkong makan bulus jadi kebanggaan tersendiri, karena dianggap hanya mereka yang berduit mampu mengonsumsi itu.

Biasanya pada musim dingin Frans bisa mengatrol harga. Sementara ketika musim panas ia sengaja menstok bulus. Tapi, kuota untuk peredaran satwa liar selama enam bulan harus digunakan. Jika  hanya mampu mengekspor sedikit, jatah itu diberikan kepada pengusaha lain.

“Jadi, pintar-pintar kita kapan harus memperpanjang izin,” ujarnya.

Peredaran bulusi dibatasi, koata se-Indonesia ditetapkan 21.000 ekor. Sedangkan Kalsel hanya dapat jatah 2.500 ekor.

Pembatasan itu dimaksudkan supaya lebih tertib, untuk mengurangi adanya peredaran bulus yang ilegal.

“Sebagian pengusaha besar agak sulit ekspor, kecuali dengan melakukan penangkaran bulus. Penangkaran lebih diprioritaskan, jika berhasil bisa ekspor tanpa ada pembatasan,” jelas Frans.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Dirjen PHKA, Ir Harry Santoso, mengatakan, sekitar 29 species kura-kura dan labi-labi tercatat sebagai native  Indonesia, dan 16 jenis yang diperdagangkan.

“Perdagangan kura-kura dan labi-labi harus berdasarkan penentuan kuota, rekomendasi LIPI serta melalui kontrol,” kata Harry Santoso.

Pengaturan itu dimaksudkan untuk menghindari kepunahan. Selama ini perdagangan internasional kura-kura dan bulus  melibatkan ratusan bahkan ribuan specimen setiap tahunnya.

Kebanyakan ditangkap di alam. Populasi liar kura-kura dan bulus sangatlah rentan. Salah satunya disebabkan oleh sifat-sifat biologis, seperti tingkat kematangan gonad yang lambat, jumlah pembiakan tahunan yang terbatas.

“Perdagangan kura-kura  dan bulus yang tidak berorientasi pada pelestarian dan pelanggaran terhadap aturan yang berlaku merupakan ancaman utama bagi populasi liar spesies tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, sekarang banyak spesies yang masuk indikasi terancam kepunahan. Karena itu, perlu dilestarikan. Perdagangan, pengawetan, dan pemanfaat satwa liar dibolehkan, tapi harus secara berkelanjutan agar lestari. Tiga pilar utama itulah yang mesti dipegang.

“Para penangkar punya kewajiban lagi mengembalikan 10 persen ke alam,” imbuhnya. (ali)

Upaya Pengendalian Satwa Liar

  • Bersama-sama dengan pemda setempat melakukan koordinasi dalam menertibkan peredarannya.
  • Melakukan koordinasi dengan Instansi terkait
  • Pemasangan papan pengumuman, standing flyer di bandara
  • Kerjasama dengan Karantina dan pengelola bandara setempat untuk pengawasan peredaran satwa liar
  • Penempatan Polhut di bandara dan pelabuhan Laut
  • Meningkatkan pembinaan dan sosialisasi ke penangkar
  • Identifikasi, inventarisasi dan survei potensi terhadap TSL di Kalsel
  • Menggalakkan patroli pengamanan fungsional terhadap kepemilikan satwa ilegal
  • Melakukan pembinaan terhadap perusahaan-perusahaan legal pemanfaat TSL

Sumber: BKSDA Provinsi Kalsel

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*