Dakwah Monumental Syekh Arsyad Al Banjari

Oleh: Ahmad Barjie B

CLICKBORNEO.COM – Ada beberapa gerakan dakwah monumental yang dilakukan oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari selama hidupnya. Di antaranya; Pertama, beliau membangun pusat pendidikan dan dakwah di Dalam Pagar-Martapura, tempat di mana beliau giat membuka pengajian agama dan pendidikan nonformal sambil mengkaderkan anak cucu  dan murid-muridnya dan mengirimnya ke berbagai daerah pedalaman untuk terus menyebarkan Islam.

Dakwah2

Kedua, beliau diberi Sultan Banjar lahan perkebunan dan pertanian untuk dikembangkan sistem irigasi dan tata pertaniannya agar lebih produktif, belakangan daerah itu dinamai Sungai Tuan yang subur untuk pertanian dan perkebunan. Ketika wafat, beliau juga dimakamkan di kawasan ini begitu juga istri-istri dan anak keturunannya, yang dikenal dengan Makam Datu Kalampayan Astambul yang selalu ramai diziarahi orang dari berbagai daerah di Indonesia bahkan Asia Tenggara hingga sekarang.

Ketiga,  Syekh Muhammad Arsyad berhasil menjadikan Islam sebagai hukum Positif di Kerajaan Banjar, dengan mendirikan Mahkamah Syariah, dengan beliau dan anak keturunannya sebagai Qadhi Besarnya. Keempat, salah seorang Sultan Kerajaan Banjar yaitu Sultan Adam al-Watsikbillah kemudian membukukan aturan syariat tersebut dalam Undang-Undang Sultan Adam (UU-SA), yang memuat aturan pidana dan perdata yang berlaku untuk seluruh kekuasaan Kerajaan Banjar yang saat itu selain mencakup seluruh wilayah Kalimantan Selatan, juga sampai ke Tanah Grogot Kaltim, Bulungan, Kotawaringin Sampit dan Pangkalan Bun (Kalteng) dan Sambas Kalimantan Barat. UU-SA beserta Kerajaan Banjar ini kemudian dihapuskan oleh Belanda.

Kelima, atas permintaan dan fasilitasi Sultan, Syekh Muhammad Arsyad menyusun sebuah kitab fikih besar yang bernuansa Banjar (Nusantara), bernama Sabilal Muhtadin. Kitab ini disebarkan ke tengah masyarakat Banjar dan terus menjadi rujukan hingga sekarang, bahkan persebarannya sampai ke wilayah Asia Tenggara lainnya (Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Thailand Selatan/Fatani). Kitab ini menggunakan bahasa Arab Melayu dan sudah diterjemahkan (disalin) ke dalam bahasa Indonesia, di antaranya oleh alm Prof Drs HM Asywadie Syukur, Lc (mantan Rektor IAIN Antasari Banjarmasin dan Ketua MUI Kalsel). Kitab ini versi kecilnya dalam bahasa kampung Banjar disusun dalam kitab Parukunan Basar oleh Shafiyah, salah seorang putri Syekh Muhammad Arsyad.

[sws_related_postleft showpost=”4″ title=”BACA JUGA” bgcolor=”0a59c1″ fontcolor=”ffffff”] [/sws_related_postleft] Keenam, Syekh Muhammad Arsyad berhasil menyelamatkan keislaman masyarakat Banjar, terutama golongan awam, dari aliran tasawuf yang dibawa oleh Abdul Hamid Abulung. Ia mengajarkan aliaran sufi wihdah al-wujud (manunggaling kawula gusti). Sultan Banjar saat itu (Tahimidullah II) menghukum mati Abdul Hamid Abulung setelah minta fatwa dari Syekh Muhammad Arsyad. Eksekusi dilaksanakan tanggal 12 Zulhijjah 1203 H/1788 M.

Raja Muda Banjar Pangeran H Khairul Saleh menginformasikan kepada saya bahwa Abdul Hamid Abulung juga berdarah bangsawan Kesultanan Banjar. Ibunya bernama Gusti Dayang Julak. Abdul Hamid merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya bernama Gusti Khadijah, dan adiknya bernama Dipati Jayanegara.

Ketujuh, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan ulama keturunannya berhasil menjadikan penguasa Kerajaan Banjar bersama rakyatnya militan ketika berhadapan dengan penjajah Belanda, sehingga terjadi Perang Banjar yang berkepanjangan (1859-1905), yang membawa risiko dibakarnya istana dan dihapuskannya Kerajaan Banjar oleh kolonial Belanda. Hampir semua elit Kerajaan Banjar berjuang bersama rakyat dengan segala risikonya yang berat, meskipun ada juga segelintir elit yang memihak Belanda akibat politik adu domba.[]

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*