Budaya Kesultanan Perlu Dihidupkan Kembali

Sambungan Tulisan ”Silaturahim Kesultanan Banjar Nusantara”

CLICKBORNEO.COM – Era kemerdekaan, pembangunan dan reformasi membuka peluang bagi bangkitnya kembali kerajaan/kesultanan nusantara dalam ranah budaya. Pemerintah melalui undang-udang dan peraturan menyadari bahwa budaya yang dulu dibangun dan melekat pada kerajaan/kesultanan nusantara perlu dihidupkan kembali guna menghadapi budaya luar yang tidak selalu positif jika diukur dari norma susila dan agama yang ada.

Sultan di Deli

Peluang ini dengan sendirinya disambut baik keturunan kerajaan dan kesultanan tersebut. Karena itu sejumlah organisasi dan lembaga bermunculan sebagai forum silaturahim dan aliansi. Di antaranya adalah Yayasan Raja dan Sultan Nusantara (Yarasutra),  Forum Komunikasi dan Informasi Keraton Nusantara (FKIKN), Forum Silaturahim Kesultanan Nusantara (FSKN), Asosiasi  Kerajaan dan Kesultanan Indonesia (AKKI),  Lembaga Pengamatan Penelitian Keraton-keraton se Nusantara (LPPKN) dll.

Saling Berkomunikasi

Adanya kebangkitan kesultanan nusantara berikut organisasi yang mewadahinya membuat para zuriyat raja dan sultan itu kembali membangun hubungan hangat. Mereka saling berkunjung dan bersilaturahim baik secara fisik maupun melalui media.

Kesultanan Banjar pimpinan Pangeran H Khairul Saleh yang sudah bangkit sejak 2010 lalu juga banyak dikunjungi koleganya. Sudah tak terhitung para pangeran dan bangsawan kerajaan lain yang datang ke Martapura. Yang terbaru di antaranya kunjungan rombongan pangeran dari Brunei Darussalam, yang dipimpin Pangeran Dr Abdul Karim bin Pangeran Haji Usman. Begitu juga kerajaan/kesultanan nusantara lain sering mengundang Pangeran Khairul Saleh ke tempat mereka, yang karena kesibukan sebagai Bupati Banjar sering diwakilkan kepada para pangeran lainnya. Mereka sangat menghargai karena menyadari bahwa Kesultanan Banjar masa lalu memang memiliki kekuasaan terbesar di Borneo.

Apabila nanti Kesultanan Banjar sudah memiliki istana sendiri di mana di dalamnya terdapat koleksi benda-benda pusaka berikut penampilan nilai-nilai budayanya, tentu kunjungan itu lebih bermakna. Kita semua, termasuk pengunjung tentu lebih memudah dalam merekonstruksi sejarah Kesultanan Banjar.

Semua ini menunjukkan bahwa Kesultanan Banjar sebagaimana kesultanan-kesultanan lainnya semakin dikenal, tak hanya di tanah air tapi juga sampai ke mancanegara. Ini karena informasi tentang Kesultanan Banjar sudah semakin tersebar luas. Kini kita semakin mudah untuk mengenali Kesultanan Banjar, baik melalui media massa cetak maupun elektronik dan media online atau internet.

Fenomena ini patut kita sambut gembira. Lebih-lebih karena bangkitnya kerajaan/kesultanan dalam ranah budaya, sama sekali bukan membangkitkan feodalisme, melainkan fokus untuk menghidupkan budaya Melayu Islam yang relevan dengan kehidupan masyarakat Islam masa lalu dan kontemporer. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*