BPTPH Bantu Atasi Hama Tanaman

CLICKBORNEO.COM – Tanaman jika tidak dipelihara dengan telaten bisa mengakibatkan gagal panen. Karena itu, kalau ada menemukan pohon yang terserang hama, segera atasi. Jangan biarkan menjalar ke tanaman lain.

Pengendalian Hama

Seperti dialami Subandi, warga Landasan Ulin Timur. Tadinya ia sudah menghitung-hitung uang yang bakal dia kumpulkan dari panen pisang. Tapi, ternyata semuanya ambyar. Pasalnya, buah pisang di kebunnya ternyata tidak berisi.

“Pernah tetangga membeli pisang dari saya. Uangnya pun sudah saya terima. Tahu-tahu sorenya dia datang, menyerahkan kembali pisang yang dia beli. Soalnya, buah pisang itu kosong,” cerita Subandi.

Terpaksa ia menyerahkan kembali uang pembeli yang terlanjur dikantonginya. Penasaran, Subandi lalu ke kebun dan menebang pohon pisang lain. Ternyata sama, buahnya juga kosong.

“Pohon pisang warga sekitar pun begitu, akibat terserang hama. Karena tak tahu cara menanggulanginya, terpaksa kebun pisang saya babat habis,” ujarnya sedih. Ia mengaku tidak tahu, ke instansi mana untuk minta bantuan mengarasi serangan hama tersebut.

Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) sebagai unit pelaksana teknis Dinas Pertanian Provinsi Kalsel, bertugas mengamati, memprediksi, mengendalikan hama dan penyakit tanaman, serta perubahan iklim. Termasuk, melakukan pemantauan terhadap penggunaan pestisida.

“Untuk pelayanan di lapangan kita ditunjang dengan laboratorium pengamatan hama penyakit dan brigade proteksi tanaman,” kata Kepala BPTPH Provinsi Kalsel, Aus Al Kausar.

Apabila ada penyakit tanaman yang tidak bisa diidentifikasi, lalu dibawa ke laboratorium untuk diagnosa. Begitu penyebabnya diketahui, baru dikembangkan teknologi terapan.

Begitu pula brigade proteksi tanaman dilengkapi sarana pengendalian, baik berupa peralatan maupun racun pestisida.

Kalau hama atau penyakit yang menyerang tanaman itu bersifat ekslusif, dengan penyebaran luar biasa, BPTPH Provinsi Kalsel berkewajiban bersama petugas kabupaten untuk menanganinya.

“Dari segi petugas di lapangan, kita punya 107 orang pengamat hama tanaman (PHT),” kata Kausar.

Mereka ditempatkan di kecamatan-kecamatan untuk membantu dinas pertanian tingkat II dalam bidang perlindungan tanaman. Demikian juga di setiap desa ada PPL.

PHT setiap Senin sampai Kamis berkeliling pakai mobil melakukan pengamatan terhadap hama penyakit tanaman pangan dan hortikultura. Setiap setengah bulan sekali mereka memberikan laporan.

Dari hasil pengamatan itu, apabila ada tanaman yang terserang hama penyakit, dan dianggap beresiko melampaui batas ambang ekonomi, mereka akan mengeluarkan peringatan dini beserta rekomendasi pengendaliannya.

“Warning itu disampaikan ke kelompok tani melalui PPL,” ujarnya.

Sebaliknya, mungkin saja hama tanaman itu tidak termonitor oleh PHT. Di sinilah mestinya petani proaktif melaporkan. Biasanya petugas akan melakukan indentifikasi faktor penyebab dan yang mempengaruhinya.

“Dari situ pengamat hama bisa menentukan saran-saran kepada petani bersangkutan,” jelasnya.(ali)

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*