Berpantang Membangun Rumah di Lokasi Bekas Kebakaran

CLICKBORNEO.COM – Bahaya kebakaran menjadi momok bagi semua orang. Bahkan dalam masyarakat Banjar berkembang ungkapan kalau kemasukan pencuri masih ada harta yang tertinggal, tapi jika kebakaran semua ludes sampai-sampai ke tahi cecak tak tersisa.

Bekas Kebakaran

Musibah ini juga pernah menimpa keluarga M Fuad. Sekitar tujuh tahun lalu, putri dan menantunya berniat menunaikan ibadah haji. Sebagaimana kebiasaan di masyarakat, sebelum berangkat haji diselenggarakan acara selamatan. Dan, untuk menjamu warga kampung malam itu Fuad memasak sebanyak dua kawah.

“Mungkin akibat kelelahan usai selamatan itu kami sekeluarga langsung tertidur lelap. Dan lupa menyiramkan air ke bawah tungku yang masih ada baranya. Kebetulan malam itu angin berhembus kencang, sehingga bara tadi berangsur jadi api lalu menjilati dinding rumah saya,” jelas M Fuad.

Rumahnya, termasuk milik para tetangga, habis terbakar. Beberapa bulan kemudian dia mendirikan rumah lagi. Tapi, tidak di tempat asal. Karena Fuad sering mendengar kalau membangun rumah di lahan bekas kebakaran nanti akan terbakar lagi.

“Anggapan ini berkembang luas di masyarakat. Terus terang saya juga ikut terpengaruh, karena sebagian memang terbukti. Daripada dihantui perasaan was-was lebih baik saya membangun rumah di lokasi lain. Kebetulan saya juga punya lahan alternatif di pinggir jalan. Lebih strategis daripada tempat semula yang terletak di dalam gang,” papar Fuad.

Sampai kini, tambahnya, alhamdulillah musibah serupa tak lagi menimpanya. Tetapi, beberapa tetangga dia yang tidak punya lahan lain dan terpaksa membangun rumah di tempat bekas terjadinya kebakaran itu, kini pun kediaman mereka tetap utuh.

 “Jadi, anggapan tersebut hanya kepercayaan masyarakat saja. Tidak bisa dijadikan pegangan,” tandasnya.

Tetapi, entah ini kebetulan, ada seorang warga Kelayan yang mendirikan rumah di atas lahan bekas kebakaran, ternyata tiga kali berturut-turut tempat tinggalnya itu habis dilahap api. Karena itu, dia merasa kapok lalu mencari pemukiman di lokasi lain.

“Dalam masyarakat Banjar memang ada kepercayaan kalau rumah terbakar sepenggal, maka sisanya sama sekali musti dibuang. Dijual pun jangan. Satu tiang saja tidak boleh dipakai, karena diibaratkan bisa mangariyau (memanggil kembali) bala api,” ujar Kasful Anwar. (ali)

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*