Berpantang Makan Nasi Arwah

CLICKBORNEO.COM – Tradisi ini sering kita temui pada sebagian besar masyarakat Banjar. Apabila sanak‑saudaranya meninggal dunia, maka pihak keluarga akan menyelenggarakan doa selamatan turun tanah, manujuh hari, manyalawi, hingga hari yang ke seratus. Dan, setahun sekali diadakan acara haulan. Para tetangga sekitar diundang untuk membacakan Fatihah, shala­wat, tahlil, serta doa haul yang dipimpin oleh seorang ulama, dengan itikad hati agar almarhum di alam kubur menda­pat rahmat Allah. Terakhir, para undangan disuguhi sajian untuk dinikmati bersama‑sama.

Selamatan1

Tapi, kalau kita jeli memperhatikan ternyata tidak semua undangan menyentuh makanan yang disuguhkan tuan rumah. Karena yang bersangkutan punya pantangan terhadap nasi arwah. Ada semacam kepercayaan, jika dia makan nasi arwah maka penyakitnya akan kumat lagi. Biasanya ini dialami oleh mereka yang pernah sakit parah atau mengidap gangguan sar­af.

Supian, warga kuin asal bakumpai, mengaku bahwa lebih lima tahun ini istrinya mengalami gangguan saraf. Tetapi penyakit istrinya tidak bersifat tetap, hanya kadang‑kala bisa kambuh.

“Oleh masyarakat sekitar dianjurkan supaya tidak makan nasi arwah. Semula saya tidak begitu mempercayainya. Suatu kali sepulang dari haulan, saya membarakat untuk anak‑istri di rumah. Tak lama, setelah istri saya memakan nasi arwah itu, paginya dia langsung mengamuk tanpa sebab. Penyakit dia kambuh,” jelas Supian.

Awalnya ia menyangka itu cuma kebetulan, karena penya­kit istrinya tersebut sudah bawaan sejak bujangan. Tapi, di lain waktu ia diantari saudari iparnya makanan. Anehnya, setelah istrinya ikut menyantap, istrinya uring‑uringan tak bisa tidur. Bahkan dia nyeracau, diajak ngomong juga tak nyambung.

“Keesokan paginya, ketika saya tanyakan kepada adik ipar saya, ternyata makanan itu nasi untuk haulan,” cerita ayah dua anak ini. Sejak itu, mau tak mau ia mempercayai juga bahwa nasi arwah dapat menyebabkan penyakit saraf seseorang bisa kambuh. Maka, untuk mengantisipasi istrinya tidak mengamuk‑ngamuk lagi, Supian sedapat mungkin menghindari agar istrin­ya tidak memakan nasi arwah.

Saat disinggung bahwa semua itu bisa jadi kenyataan karena pikiran yang bersangkutan sendiri terlanjur memper­cayainya, sebagaimana banyak dikatakan orang bahwa penyakit itu erat kaitannya dengan pola pikir, Supian malah memban­tah. “Buktinya, waktu menyantap makanan tersebut istri saya mana tahu bahwa itu nasi arwah. Tapi tetap saja penyakitnya kambuh!”  (ali)

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*