Berilmu, Kok Enggan Menulis

CLICKBORNEO.COM – Dalam persepsi saya yang berasal dari kampung udik ini, kalau seseorang berhasil jadi sarjana berarti dia pantas dikategorikan pintar. Bukankah di perguruan tinggi itu ladangnya buat menuntut ilmu? Terlebih‑lebih di Indonesia ‑- jika mau dipersempit lagi Kalsel ‑- cukup banyak yang menyandang gelar profesor, doktor, dan master.

writing-center_1

Bahkan tak sedikit yang jebolan dari berbagai universitas luar negeri. Mereka itu tentunya berotak brilian. Kalau tidak, bagaimana mungkin bisa melewati jenjang pendidikan yang terbilang wah. (Kecuali bagi yang dapat gelar dari membeli ijazah aspal, itu sih nggak perlu diomongin. Kasihan aja, kok mau‑maunya menipu diri sendiri!)

Artinya, untuk mencari pakar di bidang tertentu rasanya di negeri ini tidaklah sulit. Sayangnya, mereka yang punya bekal dan stok ilmu seabrek tersebut terkesan membiarkan ‘harta karun’‑nya sekadar ngedon di batok kepala. Kalau mau diprosentasikan, hanya segelintir orang di antara para ahli itu yang melakukan upaya transfer of knowledge melalui tulisan. Selebihnya, adalah jago‑jago omong. Pandai berbicara, tapi kikuk dalam menulis.

 Saya sering terkagum‑kagum menyaksikan narasumber maupun penanggap diskusi, seminar, lokakarya, sarasehan, atau apapun namanya, yang berbicara begitu berapi‑api. Pikiran‑pikiran yang dibentangkannya pun terbilang luar biasa. Gagasan‑gagasan yang dikemukakan, bukan cuma masuk akal, bahkan bisa membawa khalayak keluar dari kejumudan. Si bersangkutan tidak hanya pandai menganalisis dan menguliti masalah, juga mampu menawarkan alternatif solusi. Malah, hal‑hal yang belum terpikirkan orang lain, olehnya sudah lama jadi bahan perenungan.

Saking bersemangatnya berbicara, batas waktu yang disediakan panitia pun dilanggarnya. Akibatnya, peserta‑peserta lain yang tak kalah bernafsu dan antusiasnya untuk angkat bicara, protes karena merasa tidak diberi kesempatan. Bagi yang bermuka tebal, walaupun di belakangnya terdengar celetukan‑celetukan dan cemoohan bagai suara lebah mendengung, ia tetap saja ngotot meneruskan omongannya. Andai tidak segera diingatkan oleh moderator, mungkin ia akan terus berbicara, sampai mulut berbusa‑busa.

Sementara, mereka yang tak kesampaian niatnya untuk berbicara, mungkin lantaran tidak puas, begitu forum dialog usai, kemudian sepakat melanjutkan pembicaraan di pojok ruangan. Makanan prasmanan yang disediakan pihak penyelenggara pun tak sepenuhnya dinikmati. Ada hal lain yang lebih penting, uneg‑unegnya harus didengar!

Ternyata, meskipun sifatnya informal perdebatan lanjutan itu tak kalah serunya. Masing‑masing berkomentar, membentangkan isi pikirannya. Kadang supaya kelihatan intelektualnya, mereka menggunakan berbagai terminologi yang susah dimengerti. Kalau perlu bahasan yang diangkat sengaja yang berat‑berat. Ibarat dalam dunia tasawuf, orang lain masih pada tingkatan ‘syariat’ mereka sudah pada tataran ‘hakikat’ dan ‘makrifat’. Sehingga, yang mendengar hanya bisa manggut‑manggut, pura‑pura mengerti. Bagaimana mau menyanggah, lha ilmu mereka jauh lebih tinggi…

Sayangnya, ide‑ide brilian kaum intelektual tersebut tidak dituangkan dalam bentuk tulisan. Akibatnya, ia mudah meruap begitu saja. Hilang seiring dengan berlalunya waktu. Karenanya, sehebat apapun gagasan yang dipunyai tidak banyak memberi arti.

Lain ceritanya jika diabadikan dalam tulisan dan dipublikasikan, entah berapa ratus atau ribu jiwa yang tercerahkan. Atau siapa tahu wacana yang dipaparkannya bisa mempengaruhi para pengambil kebijakan, sehingga perbaikan yang diharapkannya bisa terwujud.  Dan itu pasti jauh lebih bermakna daripada sekadar omong doang. []

2 Responses to Berilmu, Kok Enggan Menulis

  1. kebanyakan mereka beralasan karena sibuk

  2. Rusminah Qumainah

    Benar pak.
    Kalau saya malah sebaliknya, gak punya ilmu tapi ngotot menulis.

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*