Berbuat Maksiat, Apuah Rajah Pudar

CLICKBORNEO.COM – Menurut Tabib Nurdian, tujuan orang dirajah pada umumnya sebagai syariat untuk keselamatan, pengasih, dan kekebalan.

Rajah

Lebih jauh Nurdian menuturkan, biasanya alat rajah itu menggunakan batang lidi enau, ada pula seperti model polpen. Kemudian alat-alat itu dicelup ke dalam minyak wewangian, biasanya minyak harum Hajar Aswad, Japarun, dan Misik. Baru kemudian dituliskan ke tubuh yang akan dirajah.

“Bagian tubuh yang biasa dirajah adalah di belakang badan, di dahi, bisa pula di lidah. Untuk lidah cukup dirajah dengan menggunakan isyarat,” jelas Nurdian.

Sebelum dirajah, biasanya si bersangkutan terlebih dulu disuruh berwudhu.

“Kalau orang itu terbiasa berbuat zina, maka saat dirajah akan mengeluarkan darah,” ungkap Nurdian yang sering melakukan praktik rajah.

Setelah dirajah, lanjutnya, yang bersangkutan harus menaati beberapa persyaratan, yakni dilarang melakukan perbuatan dosa-dosa besar, seperti berzina, berjudi, dan mabuk-mabukan.

“Bila melanggar syarat-syarat tersebut maka keampuhan rajah akan hilang dengan sendirinya,” tambah Nurdian menegaskan.

Jadi, dalam praktik rajah ada juga nuansa syiar dakwahnya.

Diakuinya, memang masalah rajah ini masih kental di masyarakat kita.

Nurdian menekankan, sebagai seorang Muslim kita tetap harus wajib membulatkan keyakinan bahwa segala sesuatu hanya Allah yang menentukan.

Senada, ustadz Abd Syukur Alhamidi mengatakan, tradisi berajah sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Bahkan ketika zaman Rasulullah, pernah diceritakan Abu Dujanah melaporkan kepada Rasul bahwa di rumahnya ada makhluk aneh berwarna hitam, berbulu, dan wajahnya memancarkan api, yang mengusik keamanan dia.

Kemudian Rasul menyuruh Syaidina Ali untuk mengambil sejenis alat tulis dan sebuah lembaran, lalu Rasul menulis kalimat yang sebagiannya mengandung ayat Alquran. Selanjutnya ayat yang tertulis dalam sebuah lembaran itu disuruh Rasul meletakkan di rumahnya. Pada saat itu juga makhluk aneh tadi hilang.

Cerita tersebut diriwayatkan oleh Baihaqi, kedudukan hadisnya pun hasan.

“Apa yang dilakukan Rasul tersebut, sama saja dengan rajah. Jadi, menurut saya berajah itu boleh-boleh saja, asal jangan mendewa-dewakannya. Dan, tetap minta perlindungan pada Allah,” ujar Abd Syukur Alhamidi.

Banyak sekali kitab-kitab yang mengulas tentang rajah, antara lain karya Imam Gazali dalam kitabnya Al-Aufak.

Namun Guru Syukur mewanti-wanti supaya yang dirajah harus dilihat dulu kredebilitas orangnya, apakah keimanan dan ketakwaannya bagus atau tidak, supaya tidak disalah gunakan. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*