Bagandang Nyiru,Mencari Anak Hilang

CLICKBORNEO.COM – Untuk mencari anak yang hilang, yang dipercaya disembunyikan oleh makhluk halus, dulu orang-orang di kampung biasa melakukan bagandang nyiru. Masing-masing warga membawa nyiru yang dipukul bertalu-talu, untuk kemudian secara berkelompok menelisik sudut-sudut kampung sambil memanggil-manggil nama si anak yang hilang.

nyiru

Dalam kepercayaan mereka, anak yang hilang itu terlelap di bawah pengaruh makhluk halus. Sehingga untuk membuka kesadarannya kembali perlu dibangunkan dengan bagandang nyiru. Dan, tradisi satu ini ternyata berlaku pula di luar Kalsel.

Meski tidak terlibat langsung, Asmuni masih ingat dulu di Marabahan ketika ia masih kanak-kanak pernah menyaksikan tradisi bagandang nyiru.

Ceritanya begini. Sore itu kedua orangtua Asim tengah bertengkar, sampai-sampai membanting piring dan gelas. Melihat kejadian itu, Asim yang merasa takut bakal kena sasaran, lalu lari bersembunyi ke semak belukar di belakang rumahnya. Lama ia meringkuk di tempat sepi itu.

Malamnya, ketika kedua orangtua Asim sudah berhenti perang mulut, barulah mereka sadar bahwa putra bungsunya tidak ada di rumah. Dicari ke mana-mana juga tak ketemu. Akhirnya, orang kampung diberitahu.Saat itu juga orang-orang berkumpul, masing-masing membawa nyiru. Berkeliling kampung sambil bagandang nyiru. Sebagian ada yang berucap, “O Datu (maksudnya makhluk halus) bulik akan anak kami!” Sambil menyebut-nyebut nama Asim.

“Hampir tengah malam pencarian dilakukan. Ketika sebagian sudah nyaris putus asa, tiba-tiba seseorang melihat Asim tergolek di sela batang pohon besar. Dipanggil berulang-ulang juga tidak menyahut. Lalu, di antara rombongan itu berinisiatif memanjat pohon tersebut dan menurunkannya bersama-sama,” kenang Asmuni.

[sws_related_postleft showpost=”4″ title=”BACA ARTIKEL LAINNYA:” bgcolor=”0a59c1″ fontcolor=”ffffff”] [/sws_related_postleft] Waktu itu tubuh Asim penuh keringat, dan tak sadarkan diri. Orang-orang kampung beranggapan dia baru saja dijilat hantu baranak, sehingga tubuhnya pun lemah tak berdaya. Baru setelah tetuha kampung mengusap wajahnya dengan air sambil membacakan ayat suci Alquran, berangsur dia bisa mengenali sekelilingnya.

“Seingat saya dulu kalau ada anak kecil yang tidak pulang sampai agak malam, sedangkan keberadaannya tidak diketahui di mana, musti orang-orang akan mencari dengan bagandang nyiru,” tegas warga Kayu Tangi, Banjarmasin Utara ini.

Anehnya lagi, tambah Asmuni, saat si anak ditemukan umumnya di atas pohon besar. Kalau menggunakan logika, rasanya tak mungkin anak kecil bisa memanjat, sebab diameter batang pohonnya saja melebihi lingkar tangannya. Kenyataan ini kian menguatkan keyakinan masyarakat, bahwa si anak memang dibawa oleh makhluk halus.

“Apalagi kita tahu selain alam nyata, juga ada dunia kasat mata yang dihuni oleh makhluk-makhluk gaib,” tandasnya.

Meskipun zaman sudah modern, ternyata di daerah-daerah pinggiran Kalsel masih ada yang melakoni tradisi yang satu ini. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*