Bachtiar Sanderta

CLICKBORNEO.COM – Bakhtiar Sanderta, lahir di Awayan,  4 Juli 1939. Dia berasal dari keluarga seniman muslim Rudat Haderah dan Tarbang Ampat Rubayyat Burdah. Sejak kecil hidup di lingkungan kesenian rakyat. Desanya yang semarak oleh pagelaran teater tradisi Mamanda, Wayang Gung, Gipang Carita, Syair-syair Melayu, teater Tutur Balamut dan Madihin. Karena sejak kecil sudah berkesenian, tidaklah mengherankan bila dia menguasai hampir semua cabang seni.

Bachtiar Sanderta

 Pendidikan dasar diselesaikan di desa kelahirannya, Awayan. Kemudian melanjutkan Sekolah Guru B di Amuntai. Setelah itu, ia mengabdikan diri di desanya sebagai guru SR. Tahun 1960 hijrah ke Banjarmasin untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Guru A. Sambil bekerja sebagai pegawai negeri sipil – yang bidang kerjanya juga tak jauh dari dunia seni – ia kuliah di Fakultas Keguruan Unlam Banjarmasin hingga meraih gelar sarjana. Pengalaman pekerjaannya, antara lain: Pelaksana Teknis Bidang Kesenian pada Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) Provinsi Kalsel, Penilik Kebudayaan, Kepala Seksi Bina Program Kanwil Depdikbud Prov. Kalsel, Kepala Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan dan menjadi widyaiswara di BPG Banjarmasin.

Sebagai sastrawan,  budayawan, teaterawan, koreografer tari, pencipta lagu-lagu daerah (Banjar), sekaligus pengamat dan pemikir seni, sebagian besar hidupnya diabdikan untuk membina sekaligus mengembangkan seni budaya di Kalimantan Selatan.  Tahun 1969, dia mendirikan Teater Banjarmasin. Grup teater tradisi yang hingga kini masih eksis ini menghimpun para seniman Mamanda dan Wayang Gung serta menggali Mamanda Pariuk bersama seniman Saperi Kadir. Sebagai Ketua Seksi Sastra dan Teater Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kalsel tahun 1976, dia berkesempatan menggali sastra daerah Lamut dan Madihin, kemudian memadukannya dalam sebuah fragmen tari “Batu Banawa” dengan komunitas lokal PERPEKINDO. Ketika masih menjabat sebagai Kepala Taman Budaya Kalimantan Selatan. (1985—1995), dia terus menggali sastra lisan Lamut dan mentransfer dari lisan ke bahasa tulis.

Sebagai penyair, Bakhtiar Sanderta di tahun 1970-an dan 1980-an sangat produktif menulis puisi dan dipublikasikan ke beberapa media cetak lokal. Puisi-puisinya diterbitkan dalam antologi tunggal, antara lain Pasar Terapung, Telabang Loksado, Bunda dengan Lentera di Tangan, dan Pohon Maksiat.

Sedangkan antologi bersama yang memuat puisi-puisinya, antara lain Panorama (penerbit Dewan Kesenian Daerah Kalimantan Selatan, 1974), Dengarlah Bicara Kami (Himpunan Sastrawan Indonesia (HIMSI) Banjarmasin, 1984), Kelahiran Sang Cahaya (Teater Pena Banjarmasin, 1985), Festival Puisi Kalimantan (editor Tajuddin Noor Ganie, 1992), Jendela Tanah Air (DKD Kalimantan Selatan., 1995), Puisi Banua Banjar (DKD Kalimantan Selatan., 1998), Wasi (antologi puisi Pekan Temu Budaya Nasional III, Banjarmasin, 1999), dan Seribu Sungai Paris Barantai (Aruh Sastra Kalimantan Selatan III, Kotabaru, 2006).

Sebagai cerpenis, dia banyak menulis cerita pendek berbahasa Banjar. Karya cerpennya dihimpun dalam sebuah buku yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Kalimantan Selatan. dan Komunitas Sastra Bahasa dan Seni FKIP Universitas Lambung Mangkurat (1995). Lima cerpennya dijadikan sebagai pengkajian seni dalam buku “Karakter Tokoh-tokoh Idaman Cerpen Banjar Modern” (Tim Pengkaji, Dr. Djantera Kawi dan Drs. Jarkasi–penerbit Dewan Kesenian Kalimantan Selatan. dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Selatan., 2000).  Cerpen-cerpennya berbahasa daerah seringkali dijadikan materi lomba baca cerpen bahasa Banjar.

Sebagai seorang dramawan dan sutradara, dia menulis naskah drama modern dan tradisi, di antaranya Ya Tuhan, Sangkala, Rahwana Bangkit, Rahwana Tobat, Bogam di Atas Tikar, dan naskah Opera Keroncong Banjar Ahoi. Naskah-naskah dramanya ini telah diterbitkan oleh Taman Budaya Kalimantan Selatan. Sedangkan buku antologi teater anak adalah Rumah Hantu (2000). Tahun 1992, Bakhtiar Sanderta dengan naskahnya Batu Gila Batu Tatawa (sebuah naskah satire tentang kekuasaan absolut) sekaligus sebagai sutradara bersama tim Kalimantan Selatan berpentas di Taman Budaya Sulawesi Selatan pada even Temu Taman Budaya dan Dewan Kesenian se-Indonesia. Tahun 1996, dia bersama para seniman teater Kalimantan Selatan mengikuti Festival Nasional Teater di Bandung, Jawa Barat, menyutradarai dan mementaskan naskahnya Abu Tamsil Siluman Lok Naga. Tahun 2005, bersama Teater Banjarmasin dia tampil di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) menyutradarai dan mementaskan naskah teater tradisinya. Pada Festival Nasional Kesenian Tahun 2007 di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Bakhtiar Sanderta bersama tim Kalimantan Selatan mementaskan naskahnya Sunduk Winata (visualisasi sastra tradisi Banjar, Lamut) sekaligus menyutradarainya.

Sebagai seniman senior, Bakhtiar Sanderta dikenal akrab menjalin pergaulan dengan para seniman muda Kalimantan Selatan, dan dia tidak pelit menularkan ilmu seninya. Kepakarannya di bidang seni itulah yang membuat ia sering diundang untuk menjadi narasumber, pembicara, dan instruktur  di berbagai forum maupun workshop seni. Di samping itu ia juga sering menjadi juri di berbagai lomba seni tingkat kota Banjarmasin dan Kalimantan Selatan.

Sebagai seorang aktivis kesenian, Bakhtiar Sanderta sejak tahun 1970-an banyak berkecimpung di berbagai organisasi kesenian, seperti Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (LESBUMI) Kalsel,  Ketua Teater Banjarmasin (1974—1979), Ketua Seksi Teater Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kalimantan Selatan (1976—1978), Komisaris Bidang Teater pada Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) Kalsel (1978—1980), Ketua Kursus Tari Sukmaraga (1979—1981), Himpunan Sastrawan Indonesia (HIMSI) Kalsel, Wakil Ketua DKD Kalimantan Selatan. (1993—1998), dan Ketua (membidangi teater) Dewan Kesenian Kalimantan Selatan. (1998—2003). Ia juga aktif sebagai anggota (seumur hidup) Lembaga Budaya Banjar (LBB) Kalsel.

Bachtiar Sanderta termasuk satu satu dari 27 maestro seni tradisi yang mendapat  penghargaan dari pemerintah RI karena ketekunannya menjaga, memelihara dan mewariskan teater tradisi Banjar, wayang gung dan mamanda. Sayang,sebelum sempat menerima anugerah tersebut,ia keburu meninggal dunia, Senin 3 Maret 2008 di RSUD Ulin Banjarmasin. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*