Aruh Bawanang Syukuri Keberhasilan Panen

Suku Bukit di Kalsel tinggal di sepanjang pergunungan Meratus. Mereka sampai sekarang masih kuat memegang adat-istiadat yang diwarisi dari nenek moyang.Mata pencaharian utama mereka adalah bertani di sawah dan tegalan. Sedangkan pekerjaan sampingan beternak, berkebun, dan membuat gula aren. Suku Bukit menyadari betul bahwa padi merupakan sumber kehidupan yang amat vital. Karena itu, ketika pertanian berhasil, mereka pun tak lupa bersyukur dengan menggelar upacara tertentu.

BawanangSuku Bukit di daerah Labuhan, Birayang (HST) misalnya, kerap menggelar aruh  bawanang apabila huma mereka mendatangkan hasil yang lumayan, melebihi untuk keperluan hidup setahun.

Bawanang berasal dari kata manang karena hasil padi mereka sangat memuaskan. Tempat aruh bawanang di Balai Adat, dengan waktu pelaksanaan usai musim panen dan semua padi sudah dimasukkan dalam kindai. Sebelum upacara terlebih dulu diadakan musyawarah adat untuk menetapkan kapan aruh bawanang. Segala persiapan dan pekerjaan pun dilakukan bergotong royong.

Perlengkapan pokok yang wajib disediakan adalah langgatan yang terdiri atas langgatan besar, langgatan pabahataraan, langgatan ayang-ayang, langgatan dulang, langgatan sangkar dan ancak sedapa. Tiap-tiap langgatan antara lain berisi lamang, beras dalam bakul, peralatan panginangan, kelapa muda, rokok panting, kembang ungkun dan kembang tahun.

Mereka yang berperan penting dalam upacara aruh bawanang, yakni Balian, Patati, Penabung gendang, dan Mantir.

Balian merupakan tokoh sentral karena dialah yang berperan melaksanakan seluruh kegiatan upacara. Terutama dalam menghubungkan manusia dengan roh gaib atau kepada yang dianggap Maha Kuasa. Upacara dipimpin oleh Balian Tuha atau Guru Jaya.

Untuk membantu dialog antara balian dengan makhluk halus atau roh gaib, ditugaskanlah seorang wanita yang disebut Patati sebagai perantara. Kegiatan baru bisa dimulai apabila telah mendapat izin dari Mantir  atau kepala kampung. Dia membuka upacara bawanang dengan batandik mengelilingi Langgatan yang terletak di tengah-tengah balai.

Keseluruhan prosesi aruh bawanang cukup panjang. Pertama, upacara Padarah Hidup yang dilakukan di rumah umbun peserta aruh dengan mengumpulkan sanak keluarga dan dipimpin balian. Selanjutnya,  upacara Batandang Pidara dimana Balian Guru Jaya duduk di atas bakul berisi padi yang baru dituai dikelilingi oleh Balian Muda, sambil bamamang. Baru kemudian, upacara Barabun Dahupa yang dilakukan di sekeliling Langgatan Besar. Guru Jaya mengusapkan minyak dengan kapur di atas parapen dupa, lalu memberi tanda plus (+) dan titik kepada para Balian.

Berikutnya adalah upacara Bajanji Balai menjelang tengah malam yang dipimpin oleh Mantir. Disusul dengan upacara Panyarahan di sekeliling lapangan besar dipimpin seorang balian yang jadi peserta (puhun) aruh. Dia menyerahkan perlengkapan  kepada Balian Guru Jaya, Sandaran Tinggi dan Sandaran, serta rakyat biasa (anak lawang) untuk diperiksa, apakah sudah sesuai dengan ketentuan tradisi.

Usai itu, diadakan upacara Minta Tangga. Mereka duduk sambil bamamang dan memegang rimbunan daun enau, minta anak tangga agar dapat naik kea lam Dewata. Baru kemudian upacara mengundang tokoh-tokoh gaib seperti Nining Bahatara, Dewata, Sangkawanang, para Putir, datu-datu , serta makhlus halus lainnya.

Sesudah semua diundang, mereka pun melaksanakan upacara ke ancak. Acara ini sangat ramai karena dibarengi dengan sabung ayam. Balian batandik dan bamamang, sementara anak-anak dan orangtua ikut bersorak-sorai.

Selanjutnya, bapunah sahut atau pemenuhan janji-janji yang diucapkan sebelum bawanang dimulai. Upacara  tersebut dilakukan sambil menyembelih hewan korban. Setelah menikmati makanan, disusul upacara membulikkan  tokoh gaib ke tempat asal mereka.

Terakhir, adalah upacara bapamali. Kegiatan ini berjalan tiga hari-tiga malam, di mana semua peserta aruh dilarang berbuat jahat, tidak boleh menggangu berbagai jenis binatang.  Pintu dan jendela balai lalu ditutup, sebagai tanda upacara telah selesai.[]

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*