Artum Artha

CLICKBORNEO.COM – Artum Artha adalah sastrawan Kalimantan Selatan generasi perintis zaman kolonial Belanda 1930-1942. Ia dilahirkan di Desa Parincahan, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, 20 Agustus 1920 dengan nama aslinya M. Husrien. Menempuh pendidikan dasar di Perguruan Parindra Taman Medan Antara Kandangan (1939).

Artum

Artum Artha pernah menjadi guru bantu di Perguruan Parindra Taman Medan Antara Kandangan, tapi kemudian lebih menekuni pekerjaannya sebagai wartawan. Dia pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Jantung Indonesia di Kandangan (1948), surat kabar Kalimantan Berjuang Banjarmasin (1948—1951), harian Tugas Balikpapan (1950—1951), harian Indonesia Merdeka Banjarmasin (1952—1954), dan harian Utusan Kalimantan Banjarmasin (1957—1960). Tahun 1961—1963, menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Selatan.

Mulai menulis puisi, cerpen, esai sastra, dan roman/novel sejak tahun 1930-an. Artum Artha banyak menggunakan nama samaran, antara lain Bujang Jauh, Emhart, HR Bandahara, M.Ch. Artum, M.Chayrin Artha, dan Murya Artha. Publikasi karya sastranya antara lain di majalah Keinsyafan Gorontalo (yang rubrik sastranya diasuh oleh HB. Jassin), majalah Terang Bulan Surabaya, Mimbar Indonesia, Panca Warna, Mutiara, Gelanggang (rubrik Siasat), Pelopor, dan Zenith (semua majalah tersebut terbit di Jakarta).

Karyanya juga dimuat di majalah Waktu dan Lukisan Pujangga (Medan), majalah Pahatan dan majalah budaya Bandarmasih Banjarmasin, serta harian Banjarmasin Post Banjarmasin (1971—2000), harian Dinamika Berita Banjarmasin (1995—2000), dan tabloid Wanyi Banjarmasin. Roman/novelnya yang sudah diterbitkan antara lain Kumala Gadis Zaman Kartini (Penerbit Gemilang, Kandangan, 1949), Tahanan Yang Hilang (Penerbit Pustaka Dirgahayu, Balikpapan, 1950), Kepada Kekasihku Rokhayanah (Penerbit Mayang Mekar, Banjarmasin, 1951), Putera Mahkota Yang Terbuang (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta, 1978), dan Kartamina (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta, 1978).

Antologi puisinya yang sudah diterbitkan adalah Unggunan Puisi Banjar (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta, 1978), sementara buku kumpulan cerita pendeknya adalah Dunia Semakin Panas (Penerbit Pustaka Artha Mahardaheka, Banjarmasin, 1997). Buku-buku Artum Artha yang lain adalah Masalah Kebudayaan Banjar (Banjarmasin, 1974), Album Pembangunan Kalimantan (Banjarmasin, 1975), Wartawan-Wartawan Kalimantan Raya (Banjarmasin, 1981), dan Hassan Basry Bapak Gerilya Kalimantan Pejuang Kemerdekaan (Banjarmasin, 1999).

Putera Mahkota Yang Terbuang” merupakan salah satu judul roman hasil karya Arthum Artha. “Putera Mahkota Yang Terbuang” diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Jakarta pada tahun 1978. Pada mulanya judul roman Arthum Artha adalah “Putera Mahkota Kerajaan Banjar”. Oleh pihak penyunting/peneerbit judulnya diubah menjadi “Putera Mahkota Yang Terbuang”. Akibat penggantian judul roman Arthum Artha tersebut, judul romannya menjadi sama dengan judul roman hasil karya Merayu Sukma yang juga berjudul “Putera Mahkota Yang Terbuang”.

[sws_related_postleft showpost=”4″ title=”BACA JUGA” bgcolor=”0a59c1″ fontcolor=”ffffff”] [/sws_related_postleft] Pada masa revolusi fisik 1945-1949, Artum Artha ikut aktif berjuang sebagai anggota organisasi kelaskaran yang ada di Kota Kandangan, seperti GEPERINDO (1945) dan GERMERI (Gerakan Rakyat Mempertahankan Republik Indonesia, 1946). GEPERINDO adalah organisasi kelaskaran yang ketika itu aktif bergiat memproduksi, mereproduksi, dan menyebarluaskan pamflet-pamflet politik yang berisi provokasi anti-pemerintah kolonial Belanda. Ketika Hassan Basry membentuk ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan, Artum Artha ikut bergabung dan bertugas sebagai staf di bagian penerangan.

Selepas revolusi fisik, Artum Artha kemudian lebih menekuni kariernya sebagai sastrawan, wartawan, dan anggota legislatif. Ia pernah menjadi Ketua DPRD II Banjarmasin, 1953—1961 (Fraksi Nahdlatul Ulama), Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Selatan (1961—1963), Kepala Seksi Sejarah dan Kebudayaan di Kantor pemerintah Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan (1964—1965), Ketua Seksi D DPRD II Banjarmasin, periode 1967—1972 (Fraksi ABRI dari unsur DHD Angkatan 45), dan Pimpinan Museum Banjarmasin (1965—1972), koleksi Museum Banjarmasin inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal koleksi museum Kalimantan Selatan di kota Banjarbaru sekarang.

Pada tanggal 17 Agustus 1973, Artum Artha menerima Hadiah Seni dari Gubernur Kalimantan Selatan, sebagai penghargaan atas prestasi, reputasi, dan dedikasinya yang menonjol di bidang penggalian kebudayaan daerah etnis Banjar di Kalimantan Selatan.

Artum Artha meninggal dunia di Banjarmasin, 28 Oktober 2002, dan dimakamkan di desa kelahirannya, Parincahan, Kandangan.[]

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*