Arsyad Indradi

CLICKBORNEO.COM – Lahir di Barabai, 31 Desember 1949.  Arsyad Indradi menyukai sastra khususnya puisi sejak duduk di SMP dan SMA. Pada tahun 1970 ketika menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Unlam  mulai menulis puisi. Puisi-puisinya banyak diterbitkan di berbagai media cetak  seperti Banjarmasin Post, Dinamika Berita, Gawi Manuntung, Bandarmasih, dll.

penyair gila

Ia sempat bergabung di Lesbumi Banjarmasin, namun  kemudian tahun 1972  memutuskan keluar. Aryad lalu mengaktifkan diri di Sanggar Budaya Kalimantan Selatan. Tahun 1972 bersama Bachtiar Sanderta, Ajamuddin Tifani, Abdullah SP dan lain-lain (mantan anggota Lesbumi) mendirikan Teater Banjarmasin khusus menggeluti teater tradisional Mamanda.

Tanggal 8-9  Februari 1972, bersama 15 seniman Banjarmasin mengadakan Aksi Solidaritas turun ke jalan menyuarakan hati nurani karena ketidakpastian hukum di Indonesia. Akibatnya, ia dikenakan pasal 510 KUHP, dijebloskan ke penjara dan dikenai tahanan luar 3 bulan. Laksus Kopkamtibda Kalsel Selatan melarang pemberitaan ini di semua media cetak Banjarmasin. Namun Harian KAMI Jakarta mengekspos berita ini (Selasa 15 Februari 1972).

Sejak 1980 – 1990-an  tidak begitu produktif lagi menulis puisi. Ia justru aktif menjadi juri lomba baca puisi, juri festival lagu dan menggeluti dunia tari. Tahun 1992 Arsyad menggagas dan mendirikan Dewan Kesenian Banjarbaru bersama seniman-seniman Banjarbaru.

Tahun 1996 – 2004  bergabung pada Komunitas Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru. Tahun 2004 mendirikan Kelompok Studi Sastra Banjarbaru (KSSB), sebagai ketua. Pada tahun 2004 pula ia diundang Majelis Bandaraya Melaka Bersejarah pada acara Pesta Gendang Nusantara 7 Malaysia.

Sebagai seorang seniman, Arsyad selalu aktif menghadiri acara diskusi sastra di Banjarbaru maupun di Banjarmasin. Termasuk acara tahunan  seperti Tadarus Puisi dan Aruh Sastra, ia tak pernah ketinggalan.

Beberapa puisinya ditampilkan dalam antologi puisi bersama antara lain Jejak Berlari (Sanggar Budaya, 1970), Panorama (Bandarmasih, 1972), Tamu Malam (Dewan Kesenian Kalimantan Selatan, 1992), Jendela Tanah Air (Taman Budaya, 1995), Rumah Hutan Pinus (Kilang Sastra, 1996), Gerbang Pemukiman (Kilang Sastra, 1997), Bentang Bianglala (Kilang Sastra, 1998), Cakrawala (Kilang Sastra, 2000), Bahana (Kilang Sastra, 2001), Tiga Kutub Senja (Kilang Sastra, 2001),  Bumi Ditelan Kutu (Kilang Sastra, 2004), Baturai Sanja (Kilang Sastra, 2004), Anak Zaman (KSSB, 2004), Dimensi (KSSB, 2005).

Secara swadana Arsyad mencetak dan menerbitkan semua puisi-puisi yang belum terdokumentasikan sejak tahun 1970 – 2006 berupa antologi tunggal. Hasilnya disebarluaskan ke seluruh nusantara.

Antologi Puisi Arsyad yakni Nyanyian Seribu Burung (KSSB, 2006), Kalalatu (KSSB, 2006), Romansa Setangkai Bunga (KSSB, 2006), dan Narasi Musafir Gila (KSSB, 2006). Semua antologi Puisi itu telah diakui sebagai terbitan yang terdaftar di Perpustakaan Nasional (KDT) katalog dalam terbitan RI Jakarta.

Dari bulan Oktober sampai akhir tahun 2005 menghimpun 142 penyair se-nusantara (hasil seleksi dari 186 penyair) dan jumlah puisi 426 puisi, dalam Antologi Puisi Penyair Nusantara: “142 Penyair Menuju Bulan”, 728 halaman, dicetak oleh Kalalatu Press Bjb Kalimantan Selatan.

Tanggal 7 Desember 2006 duet baca  puisi dengan Martin Jankowski pada acara Baca dan Diskusi Puisi “Detik-Detik Indonesia di Mata Penyair Jerman”, yang diselenggarakan Unlam Banjarmasin Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra FKIP Indonesia Arts and Cultural. []

One Response to Arsyad Indradi

  1. Percuma

    Saya suka blog nie … info terkini… thanks .. teruskan berkarya.
    . semoga lebih ramai yang mendapat manfaat
    dari penulisan awak.

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*