Aneh Tapi Mulia

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

CLICKBORNEO.COM – Dalam masyarakat kontemporer, teramat banyak realitas yang sulit dimengerti oleh akal sehat. Lihatlah remaja ABG kita, tak kuasa menahan histeris begitu menyaksikan sang idola unjuk kebolehan di atas pentas. Untuk sekadar bisa berjabatan, atau mendapatkan tanda tangan, apalagi bisa foto bareng dengan bintang pujaan, mereka rela berdesak‑desakan sampai pingsan. Bahkan ada yang hingga tewas. Sebuah ekpresi kecintaan yang terlampau berlebih‑lebihan…

Ghuraba

Betapa picisan dan dangkalnya standar yang kita tetap­kan atas hidup. Yang diuber‑uber dan diperjuangkan melulu bayang‑bayang semu!

Kita jarang punya kesungguhan hati untuk benar‑benar memahami hakikat hidup. Seluruh energi yang kita miliki tercurah untuk mengecap kesenangan sesaat, kekayaan yang memabukan, kekuasaan artifisial. Dalam mengokohkan identitas diri, kita lebih memilih penampilan fisik ketimbang keluhur­an budi, lebih menghargai bungkus ketimbang isi. Akibatnya, orientasi hidup kita berkiblat pada citra, simbol, atau tanda‑tanda (sign) yang tidak ada nilai gunanya (use value).

Berapa banyak orang‑orang kaya, pejabat, selebritis kita yang memesan nomor plat mobilnya, dan untuk itu rela membayar mahal, demi menciptakan interpretasi baru. Tak ada nilai pragmatis memang, kecuali mungkin untuk menonjolkan keakuan.

Terhadap benda‑benda teknologi, keinginan kita untuk memilikinya sering dimotivasi oleh gengsi, bukan karena fungsi atau demi efektivitas kerja. Dan budaya konsumtif ini telah menjangkiti berbagai lapisan masyarakat.

Ironisnya lagi, gaya hidup yang menonjolkan pada kepe­milikan benda‑benda wah, seolah menjadi mainstream (arus utama) dalam tata pergaulan kita. Buktinya, orang yang berharta lebih dihormati ketimbang orang yang berakhlak mulia. Aksesoris sosial berupa  pangkat, kedudukan, harta, menjadi acuan kesuksesan seseorang. Sementara bening atau pekat sisi batin yang bersangkutan, sering luput dari perha­tian kita.

Pola hidup yang kita pedomani cenderung American Style. Budaya Barat nyaris mendominasi seluruh tata ruang pergaulan kita. Hampir setiap tayangan TV menjadi bursa pemanjaan hasrat libido. Betapa banyak sudah umat Islam yang kehilan­gan identitas diri lantaran mengadopsi cara‑cara hidup yang bertentangan dengan aqidah agama yang dianut. Perempuan yang pamer kemolekan tubuh sudah menjadi pemandangan lazim dalam keseharian kita.

Aparat kepolisian yang katanya adalah salah satu penja­ga moral bangsa, dulu justru mempersulit warganya yang ingin membuat SIM dengan foto berjilbab. Sementara Sales Promotion Girl yang berpakaian serba mini malah seolah memperoleh keleluasaan, sengaja memancing jakun kaum pria yang mempelo­totinya turun‑naik.

Mereka yang konsisten memelihara auratnya, malah dipan­dang nyelineh. Mereka yang punya sikap istiqomah dalam menjalankan syariat Islam justru dicap kolot dan puritan. Mereka yang tidak mau mengenal diskotik, ekstasi, gemerlap kehidupan malam, serta‑merta dianggap kuper dan ketinggalan zaman.

Mengenai hal ini Rasulullah jauh‑jauh hari telah men­gingatkan: “Agama Islam dimulai dengan aneh. Rasul dan para sahabat yang pada waktu itu jumlahnya masih sedikit, pada saat mengajak orang‑orang kafir ke jalan tauhid, dianggap aneh dan asing. Akan tetapi Islam kian berkembang dan diken­al banyak orang. Namun setelah itu, Islam akan kembali menjadi asing dan aneh dalam pandangan umat manusia. Pada saat‑saat semacam ini, beruntunglah mereka yang dianggap aneh dan asing (ghuraba’) karena kecilnya jumlah mereka.”

Rasulullah lebih jauh menjelaskan siapa saja mereka yang dikategorikan sebagai ghuraba’ itu.

Pertama, mereka yang militan berusaha memperbaiki pola pikir masyarakat, dari yang tadinya bergelimang kemaksiatan, kembali ke jalan yang diridhai Allah. Walau di sekelilingnya banyak orang‑orang yang korupsi, ia tetap berlaku amanah, hanya menerima apa yang menjadi haknya. Tak peduli lantaran sikapnya itu, ia dicecar dengan umpatan sok suci atau pahla­wan kesiangan.

Kedua, mereka yang mengisi apa yang dianggap kosong, melengkapi apa yang dikatakan ganjil. Yaitu mereka yang gencar mengembangkan syiar Islam, justru di saat masyarakat banyak yang loyo dan enggan memperjuangkan ajaran Islam. Manakala orang‑orang disibukan untuk mengejar target duniawi dan kejayaan pribadi, ia justru lebih memilih memberdayakan tenaga, pikiran, harta dan ilmunya demi kemajuan Islam.

Ketiga,  orang‑orang yang menghidupkan sunah Rasulullah setelah sekian lama ditelantarkan oleh umat manusia. Pada saat bid’ah menyebar di mana‑mana, pada saat kultur Barat yang menyesatkan menjadi acuan pergaulan masyarakat, mereka berani tampil beda, senantiasa berpegang pada Alquran dan sunah Rasul.

Nah, bersediakah kita dicap aneh oleh orang‑orang di sekitar kita, tapi justru menyimpan rahasia kemuliaan dalam pandangan Allah? []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*