Andai Ulama Rajin Menulis

CLICKBORNEO.COM – Ulama diidentikkan sebagai orang yang berilmu agama luas, saleh, berakhlak mulia, dan bijaksana. Karena itu, pemikirannya sering dijadikan rujukan umat. Wajar jika banyak orang yang datang kepadanya berkonsultasi masalah hukum fiqih, amaliah keseharian, dan sebagainya.

Ulama Menulis 2

Namun, tidak setiap saat ulama bisa menyediakan diri untuk meladeni dan menjawab berbagai problem yang dihadapi umat. Mereka juga harus mengalokasikan waktu buat keluarga serta hal‑hal yang sifatnya pribadi. Sementara di sisi lain, kebutuhan umat untuk mendapatkan pencerahan atau solusi keagamaan kadang sangat mendesak.

Maka, untuk mensiasatinya, kenapa ulama tidak menulis saja? Dengan begitu, satu kali kerja sekian ratus bahkan ribu orang terlayani. Sebab, banyak individu yang punya kepentingan sama. Misalnya, hari ini ulama dalam tulisannya mengulas tentang hukum mengecat rambut berwarna‑warni, menato kulit, atau menyuntikkan silikon ke organ tubuh ditinjau dari kacamata Islam. Pihak terkait bukan kalangan remaja saja, para orangtua pun perlu tahu agar bisa bersikap tegas ketika menemukan anak mereka berprilaku demikian.

Hal ini menegaskan betapa efektifnya tulisan menjangkau khalayak luas. Bahkan bisa dibaca berulang‑ulang kapan dan dimana pun, sehingga kadar pemahaman terhadap permasalahan yang dimaksud melekat kuat, tidak mudah lupa.

Persoalannya, sudahkah ulama kita, terutama yang di banua Banjar, rajin menulis?

Dulu Serambi UmmaH pernah menyediakan rubrik sari khutbah. Para khatib dimintai secara bergantian tulisan mereka yang akan dibacakan pada khutbah Jumat berikut. Fakta di lapangan sebagian memang ada yang sanggup memenuhi target, menyerahkan tulisan hari Rabu sesuai deadline. Namun, justru lebih banyak yang tidak sebagaimana diharapkan. Ketika dihubungi si ulama mengaku belum menyiapkan teks yang dijanjikan. Akibatnya, karena sudah kepepet disiasati dengan model wawancara. Si bersangkutan ngomong, wartawan yang menuliskan.

Rupanya budaya menulis, tanpa bermaksud meng‑generalisasi, di kalangan ulama kita masih tipis. Buktinya, tidak jarang isi khutbah yang Jumat ini dibacakan di masjid A, nanti diulang lagi di masjid B, C, D, dan seterusnya. Artinya, dalam sebulan dari jadwal dia menjadi khatib, teks yang dibaca ya itu‑itu saja. Masih mendingan kalau tulisan tersebut hasil karya sendiri, sebab pernah kejadian ketika dimintai teks khutbah si ulama menyerahkan lembaran fotocopi yang dicomot dari buku kumpulan khutbah. Ternyata apa yang dia sampaikan di depan jamaah Jumat selama ini bukan hasil pemikiran dia, tapi mencuplik total tulisan orang lain. Sungguh, betapa memprihatinkan kenyataan ini!

 Seorang sahabat — saya lebih senang menyebutnya ‘Mr Lebah’ karena kata‑kata yang dia lontarkan sering menyengat, tapi jika dikaji lebih dalam justru mampu menghasilkan ‘madu’ sebab menggugah orang untuk memperbaiki kualitas diri — ketika memberikan motivasi penulisan, mengaku punya 200 lebih buku tentang Rasulullah. Sayang, sesalnya, sebagian besar adalah karya terjemahan.

 “Lalu, apa saja yang dilakukan kiai‑kiai kita di pesantren, sehingga tulisan mereka tidak terlihat? Padahal, kita punya ulama panutan Syekh Arsyad Al Banjari, yang selain berdakwah secara lisan juga rajin menulis,” gugatnya dengan nada menohok.

Agaknya statement ini patut menjadi renungan kita bersama.

Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah? []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*