Ajamuddin Tifani

CLICKBORNEO.COM – Ajamuddin Tifani lahir di Banjarmasin, 23 September 1951. Pernah menempuh pendidikan di Sekolah Teknik Menengah (STM) jurusan Mesin, tidak tamat. Akhirnya ia memilih banyak belajar secara otodidak, terutama dalam bidang ilmu-ilmu sosial, khususnya sastra dan budaya.

Ajamuddin 1

Kegemaran pada sastra dimulai sejak masa sekolahnya. Dalam usia belasan tahun, ia sudah melahap buku-buku sastra seperti karya-karya Marah Rusli, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Pramoedya Ananta Toer, Amir Hamzah, Sanusi Pane, Chairil Anwar dan karya pengarang tersohor Indonesia lainnya. Karya para pengarang dunia seperti Maxim Gorky, Alberto Moravia, Dostoyevsky, Victor Hugo, Guy de Maupassant, William Saroyan, William Shakespeare dan Ernest hemingway juga tak luput dari perhatian dan minat bacanya yang tinggi.

Bakat kepenyairan Fani, demikian panggilan akrabnya, telah tampak di akhir 1960-an. Tahun 1968 ia sudah menulis puisi dan mengirimkannya ke beberapa majalah sastra budaya semacam Zenith, Basis dan Budaya Jaya.

Tidak semata menulis puisi, cerita pendek, naskah drama, esai, kolom, reportase budaya di media lokal dan menjadi redaktur sastra di Media Masyarakat dan tabloid Gaung, Fani juga melukis, di samping sebagai aktor dan sutradara teater tradisi maupun modern.

Energi kreatifnya seakan tak terbatas. Ia juga mengelola acara Sanggar Deklamasi di RRI Banjarmasin, melayani pembuatan iklan radio, membuat sandiwara radio, juga mengasuh acara bakisah  dalam bahasa Banjar di RRI Banjarmasin yang kemudian diteruskan di radio swasta (yang amat digemari, terutama di pelosok pedesaan, karena unsur humornya). Belakangan, ia menghimpun sekelompok pemusik dan mendirikan Nagarunting Concert. Grup tersebut beberapa kali pentas dengan dukungan Taman Budaya dan Dewan Kesenian Kalimantan Selatan, yang khusus memusikalisasikan puisi-puisinya, dengan Fani sendiri sebagai vokalis.

Di masa remajanya, ada “zaman keemasan” bagi Fani sebagai seorang deklamator. Dalam periode 1968 – 1985, ia selalu menjadi deklamator terbaik dan tak terkalahkan dalam setiap lomba deklamasi di Kalimantan Selatan. Setelah 1985, ia tak pernah lagi mengikuti lomba dan sejak itu selalu diminta sebagai juri dalam perlombaan. Pada 17 Agustus 1982 ia menerima Hadiah Seni (bidang sastra) dari Gubernur Kalimantan Selatan.

Berbeda dengan sebelumnya, sejak sekitar 1980-an orientasi sastra dan pemikirannya bergeser ke Timur. Ia mulai mengakrabi puisi-puisi dan pemikiran Rabindranath Tagore, Ibnu Khaldun, Matshuo Basho, Li Tai Po, Muhammad Iqbal, Yasunari Kawabata, Yukio Mishima,  dan, terutama, karya para penyair sufi dari Al Hallaj hingga Jalaluddin Rumi.

Sebagai buah dari kreativitasnya dalam penulisan kreatif, ia menyabet puluhan penghargaan dari berbagai lomba penulisan karya sastra, antara lain Juara I Lomba Cipta Puisi (LCP) se-Kalimantan Selatan pada peringatan wafatnya Chairil Anwar dan Trisno Sumardjo (1975), Juara I LCP se-Kalimantan Selatan dalam Pekan Kesenian Daerah (1980), Juara I LCP se-Indonesia oleh ARPENDA, Yogyakarta (1984), Juara I LCP se-Kalimantan Selatan (1985), Juara Harapan II Sayembara Penulisan Naskah Drama Televisi oleh PWI Kalimantan Selatan (1989), Juara I (sekaligus Juara II) Penulisan Naskah Drama Remaja oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Selatan (1991).

Esainya terpilih sebagai Juara Harapan II Lomba Tulis Esai Majalah Tiara, Jakarta (1991), Juara III LCP Islami Iqra se-Indonesia (1992), bersama Bakhtiar Sanderta menjadi Juara III Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Anak-anak se-Indonesia, Depdikbud, Jakarta (1993); Nominator 35 Puisi Terbaik Nonranking LCP se-Indonesia oleh Yayasan Taraju Ekspresi Budaya, Padang, Sumatera Barat (1994), dan Juara II Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Anak-anak se-Indonesia, Depdikbud, Jakarta (1995).

Dari Malaysia, ia menerima Anugerah Sastra Darul Iman III untuk Empat Golongan Berhormat, yang diselenggarakan GAPENA (1994). Pada tahun 2005 ia juga menerima penghargaan berupa Borneo Award. Selain prestasi di bidang penulisan kreatif, Fani juga sering diundang dalam pelbagai forum temu sastra, di tingkat lokal maupun nasional, sebagai pembaca puisi, peserta diskusi atau pembicara.

Kegiatan sastra yang diikutinya, antara lain, Forum Baca Puisi Empat Kota di Yogyakarta (1981), Pertemuan Sastrawan Nusantara VI di Ujungpandang (1986), Forum Puisi Indonesia ’87 di PKJ-TIM, Jakarta (1987), Kongres Kebudayaan II di Jakarta (1991), Festival Poesi Kalimantan di Banjarmasin (1992), Festival Puisi XIII, PPIA, di Surabaya (1992), Temu Teater Indonesia di Surakarta (1993), Musyawarah Seniman II Kalimantan Selatan di Banjarmasin (1994), Diskusi Kebudayaan di Banjarmasin (1995) dan Mimbar Penyair Abad 21 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta (1996).

Puisi, esai sastra (dan beberapa cerpennya) dipublikasikan media cetak lokal maupun nasional, antara lain Banjarmasin Post, Dinamika Berita, Gawi Manuntung, Gaung, Barito Post, Media Masyarakat, Bandarmasih, Mimbar, Pelita, Sinar Harapan, Suara Karya, Berita Buana, Media Indonesia, Koran Tempo, Topik, Basis, Amanah, Budaya Jaya, Panji Masyarakat, Suara Muhammadiyah, Ulumul Qur’an, dan Horison.

Sebagian sajak awalnya sempat diantologikan secara stensilan, dalam tajuk Problema-problema (1975), Lalan (1975), Jembatan I (1987) dan Jembatan II (1988). Sajak-sajaknya yang lain dimuat dalam kumpulan  bersama, di antaranya Air Bah (1970), Jabat Hati (1973), Jejak Berlari (1973), Panorama (1974), Busur Waktu (1974), Antologi Puisi ASEAN (1983), Dengarlah Bicara Kami (1984), Kelahiran Sang Cahaya (1985), Puisi Indonesia ’87 (1987), Antologi Puisi Keprihatinan Sosial (1991), Festival Puisi XIII, LPPIA (1992), Festival Poesi Kalimantan (1992), Tamu Malam (1992), Bosnia dan Flores (1993), Sahayun (1994), Dari Negeri Poci 3 (1995) dan Puisi Indonesia 1997 (1997).

Cerpennya, dengan menggunakan nama Laila Fakhriani, Petaka Teluk Mendung, dimuat Satyagraha Hoerip (editor) dalam bunga rampai Cerita Pendek Indonesia IV (1986). “Sastra Kita Tahun 2000, Bagaimana?” adalah esainya yang dimuat dalam buku Mimbar Penyair Abad 21 (1996).

Setelah sebulan dirawat akibat menderita sakit, Ajamuddin Tifani meninggal dunia di RSUD Ulin Banjarmasin, Senin pagi, 6 Mei 2002. Atas prakarsa kawan-kawannya, beberapa tahun kemudian kumpulan puisi tunggalnya yang pertama (dan terakhir), Tanah Perjanjian (Hasta Mitra, Jakarta, 2005), terbit, dengan “penyantun” sahabatnya, penyair Tariganu. []

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*