Adu Ketangkasan Bermain Gasing

bagasing 2CLICKBORNEO.COM – Bagasing biasanya dilakukan oleh anak laki-laki, remaja, bahkan orang dewasa. Dalam permainan yang mengandung unsur olahraga ini peserta saling beradu ketangkasan dalam memutar dan melemparkan gasing. Permainan tradisional ini memerlukan sedikit lapangan terbuka. Karena itu, sering dilaksanakan di luar rumah, terutama di atas tanah kering yang agak keras.

Sesuai dengan namanya permainan ini menggunakan alat gasing yang terbuat dari kayu batang kopi atau manggis. Paling baik lagi adalah dari bahan pohon kemuning karena kadar kayunya lebih keras dan kuat.

Dikenal adalah dua jenis gasing, yaitu “gasing laki” dan “gasing bini”. Gasing laki memiliki ciri kepalanya yang agak besar, sedangkan gasing bini dengan ukuran kepala lebih kecil. Bentuk gasing tersebut seperti buah kedondong, dengan garis tengah sekitar 7 cm, namun ada pula yang kurang dari itu.

Untuk dapat memutar gasing diperlukan tali yang kuat. Khusus untuk gasing bini dibutuhkan panjang tali sampai 2 meter bahkan lebih, sedangkan untuk gasing laki cukup menggunakan tali pendek sekitar 60 cm.

Tali gasing secara tradisional dibuat dari serat daun nenas yang panjang. Alat lain yang diperlukan adalah “susukan” untuk menyusuk gasing yang sedang berputar dan “lapik” di bawah gasing yang tengah berputar.

Susukan terbuat dari kayu yang berbentuk seperti senduk nasi, sedangkan lapik berbentuk seperti piring kecil dan dibuat dari tempurung kelapa. Untuk memutar gasing terlebih dahulu gasing itu dililit dengan tali di lehernya dengan kuat dan mesra.

Permainan bagasing dilakukan oleh dua orang atau dua kelompok apabila pesertanya banyak. Untuk menentukan pihak mana yang “pasang” dan pihak mana yang “manukun” alias memukul, maka terlebih dulu diadu “balalandangan” berputar gasing bini. Sebelumnya disepakati apakah adu balalandangan itu berputarnya di atas lapik atau tidak. Umumnya memang menggunakan lapik yang telah disediakan oleh masing-masing pihak.

[sws_related_postleft showpost=”4″ title=”BACA ARTIKEL LAINNYA:” bgcolor=”0a59c1″ fontcolor=”ffffff”] [/sws_related_postleft] Begitu mendengar seruan aba-aba berupa hitungan satu sampai tiga dari seorang juru tengah, pihak A dan B secara serentak memainkan gasing bini mereka. Gasing yang tengah berputar di tanah tersebut segera disusuk dengan susukan dan langsung diletakkan di atas lapik. Di situ ditunggu beberapa saat, gasing siapa yang lebih lama berputar, berarti dialah yang berhak untuk manukun gasing lawan. Misalnya gasing milik A lebih landing, maka pihak B yang akan “pasang”.

Dengan demikian, B berkewajiban untuk memainkan gasing bininya sebanyak 5 kali berturut-turut, dan A akan manukun dengan gasing lakinya sebanyak 5 kali pula. Setelah itu, baru giliran B berkesempatan untuk manukun gasing bini milik A juga sebanyak 5 kali. Sistem ini dikenal dengan sebutan “tukun lima”.

Keterampilan dalam permainan bagasing tampak pada gasing mana yang lebih dapat berputar, apakah gasing bini atau gasing laki. Kadang-kadang bisa berakibat gasing itu jadi pecah, retak atau cacat, lantaran saking kuatnya manukun.

Permainan bagasing ini mengandung nilai pendidikan yang positif, karena mampu melatih keterampilan, ketangkasan olahraga, kejujuran dalam bermain, setia kawan dan persahabatan.[]

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*