Akad Nikah dan Masa Bapingit

CLICKBORNEO.COM – Masyarakat Banjar dominan Muslim, karena itu upacara nikah umumnya diselenggarakan sesuai dengan ajaran Islam. Dan lazimnya akad nikah dilaksanakan di kediaman calon isteri.

Pingit

Pada upacara nikah calon pengantin pria mengenakan jas, sarung, dan peci. Ia duduk di tempat khusus – biasanya beralaskan sarung bahalai yang disusun sedemikian rupa menyerupai bentuk bintang – persis di tengah-tengah hadirin. Sedangkan calon pengantin wanitanya mengenakan kebaya dan berhias. Saat akad nikah ia tidak duduk di tengah undangan,melainkan di dalam kamar.

Sebelum akad nikah dilangsungkan, penghulu terlebih dulu menanyakan kesediaan calon pengantin wanita lewat orangtuanya. Begitu ijab kabul selesai, dilanjutkan dengan doa dan khotbah nikah, serta nasihat perkawinan yang disampaikan oleh penghulu. Tidak jarang diisi pula dengan ceramah agama seputar kehidupan berumahtangga. Kali ini penceramahnya tidak harus penghulu, bisa saja oleh Tuan Guru.

Dalam perkembangan sekarang, usai ijab kabul calon pengantin wanita dibawa keluar dan duduk bersanding di depan undangan. Berita acara pernikahan ditandatangani oleh kedua mempelai dan saksi-saksi. Acara nikah ini diakhiri bersalaman dengan para undangan (baca: Urang Banjar dan Kebudayaannya, hlm 87).

Bapingit

Menjelang hari perkawinan, calon mempelai dituntut kesiapan fisik dan mental. Terutama si wanitanya, sengaja dibatasi untuk melakukan kegiatan di luar rumah. Masa bapingit atau bakurung ini di samping menjunjung adat, juga untuk menghindari segala kemungkinan yang tak terduga. Tidak sedikit  kasus, gara-gara salah satu calon mempelai mengalami kecelakaan karena masih beraktivitas diluar rumah, pelaksanaan perkawinan terpaksa ditunda. Demi mengantisipasi hal semacam itu, diberlakukanlah masa bapingit.

Selama bapingit, calon mempelai wanita bisa lebih intens merawat diri dengan cara bakasai maupun batimung. Mandi uap khas masyarakat Banjar dengan menggunakan bahan tradisional seperti lengkuas, serai, dan daun pandan ini, dimaksudkan untuk mengeluarkan keringat sebanyak-banyaknya, sehingga pada saat bersanding nanti tidak lagi berkeringatan. Dengan batimung, badan pun jadi harum.

Selain itu, selama masa bapingit kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan oleh tetuha keluarga untuk menasihati calon mempelai sekitar kehidupan berumah tangga. Dengan begitu, diharapkan perkawinan nanti berjalan langgeng, sakinah, mawadah wa rahmah.  (ali)

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*